11 Hidangan Street Food Yogyakarta yang Legendaris
- Lupis Mbah Satinem: Sarapan Legendaris
- Gudeg Mbok Lindu: Simbol Yogyakarta
- Bakpia Pathok 25: Pabrik Oleh-Oleh
- Varian Wajib Coba: Premium Durian
- Mangut Lele Mbah Marto: Pedas & Smokey
- Rujak Es Krim Pak Nardi: Panas vs Dingin
- Bakmi Jawa Liek Murry: Aroma Arang
- Jenang Bu Gesti: Manisnya Pasar Tradisional
- Soto Ayam Kadipiro: Kuah Bening Legendaris
- Mie Lethek: Mie “Kotor” yang Autentik
- Proses Tradisional dengan Sapi
- Sate Klathak Pak Bari: Minimalis & Jenius
- Tengkleng & Kicik: Kepala Kambing
Yogyakarta bukan sekadar kota pelajar atau pusat kebudayaan Jawa; bagi para pencinta kuliner, ini adalah destinasi tujuan utama. Dalam video bertajuk “Indonesian Street Food Heaven 🇮🇩” yang dirilis oleh Abroad and Hungry pada 1 Desember 2024, kreator video ini membawa kita menelusuri lorong-lorong rasa di Yogyakarta. Dari antrean subuh demi jajanan pasar hingga makan malam di tengah pasar tradisional, perjalanan ini mengungkap 11 kuliner yang “haram” dilewatkan. Artikel ini merangkum pengalaman tersebut secara mendetail agar Anda bisa merasakan sensasinya—tanpa perlu beranjak dari kursi Anda.
Lupis Mbah Satinem: Sarapan Legendaris
Perjalanan dimulai pukul 06.00 pagi. Mbah Satinem bukan sekadar penjual jajanan pasar; ia adalah legenda yang telah berjualan selama bertahun-tahun. Begitu tiba, sistem antrean menggunakan nomor urut sudah berlaku—tanda kepopuleran tempat ini.

Hidangan ini terdiri dari ketan yang dipadatkan (lupis), parutan kelapa, dan komponen lain yang disebut “cenil” dalam budaya Jawa (meski video tidak menyebut nama spesifiknya, hanya mendeskripsikan teksturnya). Kuncinya ada pada gula merah cair (juruh) yang sangat kental, hampir seperti karamel.
Sebuah cerita menarik terungkap: di era Presiden Soeharto, salah satu asistennya pernah membeli lupis di sini untuk sang Presiden. Soeharto sangat menyukainya hingga menjadi pelanggan tetap bersama keluarganya. Momen inilah yang konon melambungkan nama Mbah Satinem.
Gudeg Mbok Lindu: Simbol Yogyakarta
Belum ke Jogja kalau belum makan Gudeg. Warung ini diklaim sebagai salah satu penjual gudeg tertua di Yogyakarta, beroperasi lebih dari 100 tahun (saat ini diteruskan oleh putrinya).

Dalam satu piring penuh kenikmatan, Anda akan menemukan:
- Gudeg: Nangka muda yang dimasak perlahan dengan gula aren dan santan.
- Krecek: Kulit sapi pedas yang dimasak dengan sambal.
- Pelengkap: Ayam, telur bacem, tahu, dan petai (stinky beans).
Berbeda dengan stereotip gudeg yang “manis banget”, versi Mbok Lindu dinilai seimbang. Ada rasa manis, sedikit pahit dari sayuran, dan pedas yang intens dari krecek. “Rasanya seperti makan daging,” ujar sang kreator saat mencicipi nangkanya.
Bakpia Pathok 25: Pabrik Oleh-Oleh
Kunjungan ke pabrik bakpia ini seperti melihat “anak kecil di toko mainan”. Proses pembuatannya masif namun tetap mempertahankan tradisi: memanggang menggunakan arang (charcoal) untuk aroma khas, dan menggunakan rel kereta api bekas sebagai landasan loyang oven!

Sang kreator mencoba bakpia kacang hijau original yang masih hangat (fresh from the oven).
Varian Wajib Coba: Premium Durian
Selain rasa original, varian durian menjadi favorit. Menggunakan durian asli (bukan esens), rasanya creamy dan legit. “Ini bukan esens, ini durian murni,” tegasnya.
Teksturnya digambarkan “renyah di luar, lembut di dalam”. Bakpia di sini bukan sekadar makanan, tapi “potongan kenangan” dari Yogyakarta untuk dibawa pulang.
Mangut Lele Mbah Marto: Pedas & Smokey
Tersembunyi di dalam desa, tempat ini menawarkan pengalaman makan langsung di dapur tradisional (pawon). Mbah Marto yang legendaris masih terlihat mengupas bawang di sana.

Bintang utamanya adalah Mangut Lele: ikan lele yang diasap terlebih dahulu, dipanggang, lalu dimasak dalam kuah santan pedas berwarna merah menyala.
Meskipun warnanya merah garang, rasanya ternyata tidak mengecewakan. “Smoky, manis, ada aroma arang, dan pedas yang sopan,” ungkap narator. Daging lelenya tebal dan berpadu sempurna dengan kuah santan yang gurih. Pengunjung juga bisa mengambil pelengkap seperti gudeg daun singkong dan opor ayam.
Rujak Es Krim Pak Nardi: Panas vs Dingin

Kombinasi yang mungkin terdengar aneh bagi orang asing, tapi sangat masuk akal di lidah lokal: Rujak buah serut ditambah satu skop es krim puter (biasanya rasa kelapa/kopyor berwarna pink).
Sensasinya adalah kontras:
- Rasa: Asam segar dari buah vs Manis creamy dari es krim.
- Suhu: Dingin es krim meredakan pedasnya bumbu rujak.
“Saya disuruh menambahkan sambal,” katanya. Ternyata, tambahan sambal membuat rasanya semakin “nendang” dan menyatukan semua elemen rasa.
Bakmi Jawa Liek Murry: Aroma Arang
Makan malam dengan Bakmi Jawa adalah ritual wajib. Di tempat ini, bakmi dimasak satu per satu menggunakan anglo (tungku tanah liat) dan arang, memberikan aroma smokey yang tidak bisa ditiru kompor gas.

Ada dua varian yang dicoba: Bakmi Godog (Rebus) dan Bakmi Goreng.
- Bahan: Menggunakan ayam kampung dan telur bebek (memberikan rasa lebih gurih/creamy).
- Rasa: Kuahnya dideskripsikan sebagai “elegan dan lembut”. Varian gorengnya lebih manis karena kecap, namun tetap seimbang dengan acar timun dan cabai rawit.
Jenang Bu Gesti: Manisnya Pasar Tradisional
Di dalam pasar tradisional yang ramai, Bu Gesti menyajikan sarapan manis berupa Jenang (bubur sumsum, jenang candil, mutiara). Teksturnya lembut, hangat, dan perpaduan santan serta gula Jawanya pas—”tidak terlalu manis, tapi menenangkan,” menurut ulasan video. Tempat ini sudah beroperasi sejak tahun 1950-an!
Soto Ayam Kadipiro: Kuah Bening Legendaris
Warung soto yang telah berdiri lebih dari 100 tahun. Ciri khasnya adalah kuah bening yang kaya rasa kaldu ayam kampung, dimasak dengan kayu bakar/arang.
Cara makannya adalah dengan meracik sendiri: nasi dicampur suwiran ayam, perkedel kentang, tauge, lalu disiram kuah panas. Jangan lupa tambahkan sambal, kecap, dan jeruk nipis. “Rasanya kompleks, ada kunyit, manis kecap, dan segarnya sambal,” puji sang narator. Minuman pendamping wajib: Sarsaparilla cap Badak.
Mie Lethek: Mie “Kotor” yang Autentik
Perjalanan satu jam ke Bantul untuk melihat pembuatan mie yang sangat unik. “Lethek” berarti kotor atau kusam, merujuk pada warna mie yang kecokelatan karena terbuat dari tepung singkong dan gaplek tanpa pemutih.
Proses Tradisional dengan Sapi
Yang paling mencengangkan adalah proses penggilingan adonan yang masih menggunakan tenaga sapi jantan besar yang berjalan memutar batu gilingan raksasa! Mie ini dikukus, dijemur, dan butuh waktu 2,5 hari untuk siap jual.
Saat dimasak menjadi mie rebus atau goreng, teksturnya al dente dan sedikit kenyal (chewy/rubbery) khas singkong, berbeda dengan mie terigu biasa.
Sate Klathak Pak Bari: Minimalis & Jenius

Di malam hari, pasar ini berubah menjadi surga sate kambing. Sate Klathak punya dua ciri unik:
- Tusukan Jeruji Besi: Menggunakan ruji sepeda (bicycle rims) sebagai tusuk sate. Besi menghantarkan panas ke dalam daging, membuatnya matang sempurna.
- Bumbu Minimalis: Hanya garam dan lada. Rasa lezat murni berasal dari kualitas daging kambing muda.
Sate ini disajikan dengan kuah gulai (kari) encer sebagai celupan. “Dagingnya gila, juicy, gurih,” seru narator berkali-kali menyebut rasanya “ilegal” (saking enaknya).
Tengkleng & Kicik: Kepala Kambing
Masih di lokasi yang sama dengan Pak Bari, video juga menyoroti hidangan “Kicik” atau bagian dari kepala kambing (tengkleng). Bagian seperti telinga, pipi, dan daging kepala dimasak dengan bumbu kecap manis pedas yang kental.
Tekstur kulit dan telinga yang kenyal (crunchy) berpadu dengan bumbu manis gurih. Bagi pencinta jeroan dan tekstur unik, ini adalah penutup malam yang sempurna.