Sekaten di Yogyakarta: Warisan Budaya yang Hidup Sepanjang Zaman
Suara gemuruh gamelan mengalun di alun-alun utara Yogyakarta. Aroma khas nasi gurih dan bunga melati membaur di udara. Ribuan orang berduyun-duyun memadati kawasan keraton, bukan untuk melihat konser modern, tetapi untuk menyaksikan sebuah tradisi yang telah berlangsung lebih dari empat abad. Inilah Sekaten, pesta rakyat sekaligus perayaan keagamaan yang menjadi napas budaya Kota Gudeg.
Akar Sejarah Sekaten: Dari Dakwah Hingga Tradisi
Asal-usul Sekaten berawal dari masa pemerintahan Sultan Hamengkubuwono I, pendiri Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Kata “Sekaten” sendiri konon berasal dari istilah “Syahadatain”, yang merujuk pada dua kalimat syahadat. Pada awalnya, perhelatan ini berfungsi sebagai metode dakwah yang halus dan menarik. Para Wali menggunakan pertunjukan wayang dan alunan musik gamelan untuk menarik perhatian masyarakat, yang kemudian disisipi dengan pesan-pesan agama Islam.
Dengan berjalannya waktu, acara ini berevolusi dari sarana dakwah menjadi tradisi budaya tahunan yang mengakar kuat. Sekaten bukan lagi sekadar peringatan keagamaan, melainkan simbol persatuan antara raja (kraton) dengan rakyatnya. Tradisi ini menjadi bukti keberhasilan strategi budaya para leluhur dalam menyebarkan nilai-nilai baru tanpa menghapus identitas lokal.
Rangkaian Acara Inti Sekaten
Puncak perayaan Sekaten biasanya jatuh pada bulan Maulid, bulan kelahiran Nabi Muhammad SAW dalam kalender Hijriyah. Rangkaiannya dimulai dengan Upacara Miyos Gongso, yaitu prosesi keluarnya dua set gamelan pusaka Kraton, Kyai Gunturmadu dan Kyai Nagawilaga, dari dalam keraton menuju Masjid Gedhe Kauman.
Selama tujuh hari, kedua gamelan ini ditabuh di serambi masjid. Masyarakat pun berbondong-bondong datang, tidak hanya untuk mendengarkan alunan musik, tetapi juga untuk mengikuti tradisi ‘malesan’. Malesan adalah ritual berjalan mengitari kedua gamelan tersebut dengan harapan mendapatkan berkah.
Puncaknya adalah pada malam sebelum tanggal 12 Rabiul Awal, dimana diadakan Grebeg Maulud. Pagi harinya, gunungan yang terbuat dari hasil bumi dan makanan dibawa dalam arak-arakan dari keraton ke masjid untuk didoakan, lalu diperebutkan oleh masyarakat. Perebutan gunungan ini dipercaya membawa kesejahteraan bagi yang mendapatkannya.
Pasar Malam Sekaten: Wajah Lain dari Perayaan
Jika ritual di sekitar Masjid Gedhe Kauman menampilkan sisi sakralnya, maka Alun-Alun Utara Yogyakarta menunjukkan sisi festivitas rakyat yang meriah melalui Pasar Malam Sekaten. Pasar malam ini berlangsung lebih lama, biasanya sekitar satu bulan penuh.
Di sini, pengunjung disuguhi berbagai hiburan rakyat. Dari wahana permainan klasik seperti bianglala dan komidi putar, hingga pertunjukan wayang kulit, ketoprak, dan kethoprak humor. Suasana semakin ramai dengan deretan ratusan kios yang menjajakan aneka makanan khas, mulai dari yang legendaris seperti Angsle, Sate Kambing, atau Gulai Kambing, hingga jajanan kekinian.
Pasar Malam Sekaten telah menjadi magnet wisata yang luar biasa. Ia menghadirkan perpaduan unik antara spiritualitas dan kegembiraan duniawi, antara tradisi dan komersialisasi modern, semuanya berjalan beriringan dalam satu ruang yang sama.
Makna Filosofis di Balik Keriuhan
Di balik gemerlap lampu dan keriuhan pasar malam, Sekaten menyimpan filosofi hidup yang dalam. Prosesi arak-arakan gunungan, misalnya, adalah simbol sedekah Sultan kepada rakyatnya dan wujud syukur atas melimpahnya hasil bumi. Bentuk gunungan yang meruncing ke atas juga diartikan sebagai semangat untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.
Kehadiran dua gamelan pusaka yang berbeda bunyi melambangkan keseimbangan alam semesta. Tradisi mengitari gamelan (malesan) mencerminkan siklus hidup manusia. Secara keseluruhan, Sekaten adalah pengingat tentang harmoni antara kewajiban kepada Tuhan, kepemimpinan yang bertanggung jawab, dan kehidupan sosial masyarakat yang rukun.
Tips Menikmati Sekaten bagi Pengunjung
Bagi Anda yang berencana menyaksikan Sekaten, beberapa tips ini mungkin bisa membantu:
- Periksa Jadwal: Waktu pelaksanaan mengikuti kalender Hijriyah, sehingga tanggalnya maju sekitar 10-12 hari setiap tahunnya. Pastikan Anda mengecek jadwal resmi.
- Datang Lebih Awal: Untuk menyaksikan prosesi inti seperti Miyos Gongso atau Grebeg, datanglah beberapa jam sebelumnya karena lokasi akan sangat padat.
- Kenakan Pakaian Sopan: Saat memasuki area sekitar Masjid Gedhe Kauman dan Keraton, kenakan pakaian yang tertutup dan sopan sebagai bentuk penghormatan.
- Jaga Barang Bawaan: Keramaian tinggi berpotensi terhadap aksi copet. Simpanlah dompet dan ponsel di tempat yang aman.
- Cicipi Kuliner Khas: Jangan pulang sebelum mencoba makanan legendaris Pasar Malam Sekaten seperti Sate Kambing Pak Pong atau Es Dawet Telasih.
Sekaten lebih dari sekadar festival tahunan. Ia adalah catatan hidup yang terus ditulis, sebuah ruang pertemuan antara masa lalu dan masa kini, antara raja dan rakyat, antara yang sakral dan yang profan. Dalam setiap dentuman gong dan riuh rendah tawa di alun-alun, tradisi tua ini terus membuktikan bahwa ia bukan peninggalan yang usang, melainkan warisan budaya yang tetap relevan dan dinikmati oleh setiap generasi. Keberlangsungannya adalah cermin dari jiwa Yogyakarta sendiri: berakar kuat pada tradisi, namun tetap terbuka untuk bernapas bersama zaman.
Aktivitas Pasar Tradisional Masih Tinggi
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa pasar tradisional belum mengalami mati suri. Hal ini ia sampaikan setelah melihat langsung aktivitas di Pasar Beringharjo dan Teras Malioboro 1 di Yogyakarta, yang masih dipadati pengunjung dan transaksi jual beli.
Menurut Purbaya, kondisi tersebut berbeda dengan anggapan sebagian pihak yang menilai pasar tradisional mulai sepi. Ia justru menemukan bahwa aktivitas ekonomi di pasar tersebut tetap berjalan dengan baik, bahkan mencatat omzet yang cukup tinggi.
Omzet Tinggi dan Tren Ekonomi Positif
Dalam kunjungannya, Purbaya menyebutkan bahwa omzet di kawasan Pasar Beringharjo bisa mencapai sekitar Rp2 triliun. Angka ini menunjukkan bahwa pasar tradisional masih memiliki peran penting dalam perekonomian, terutama di tengah proses pemulihan ekonomi yang belum merata.
Ia juga melihat fenomena serupa di beberapa pusat perdagangan lain seperti Tanah Abang di Jakarta dan pasar-pasar di Bandung yang tetap ramai. Hal ini menjadi indikasi bahwa sektor perdagangan tradisional masih bertahan dan bahkan menunjukkan tren positif.
Produk UMKM Jogja Dinilai Kompetitif
Selain meninjau aktivitas pasar, Purbaya juga menyempatkan diri berbelanja berbagai produk seperti batik, kain, dan kaos. Ia menilai produk UMKM di Yogyakarta memiliki daya saing tinggi, baik dari segi kualitas maupun harga.
Menurutnya, harga produk di Yogyakarta relatif lebih terjangkau dibandingkan di kota besar seperti Jakarta. Para pedagang juga mengaku kondisi permodalan mereka sudah cukup stabil, yang menjadi sinyal bahwa likuiditas di tingkat pasar mulai membaik.
Kunjungan Bersama Sri Sultan HB X
Dalam kunjungan tersebut, Purbaya didampingi oleh Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X. Keduanya meninjau langsung lapak-lapak pedagang sekaligus melihat perkembangan pemanfaatan Dana Keistimewaan DIY di kawasan Teras Malioboro 1.
Kunjungan ini sekaligus menunjukkan bahwa pasar tradisional masih menjadi bagian penting dari identitas ekonomi dan budaya Yogyakarta yang terus hidup di tengah perubahan zaman.
Menghidupkan Warisan Sejarah di Jantung Malioboro
InJourney melalui InJourney Hospitality resmi menghidupkan kembali nama Grand Hotel De Djokja sebagai bagian dari penguatan lini Heritage Collection. Langkah ini menjadi upaya menghadirkan pengalaman menginap yang tidak hanya nyaman, tetapi juga sarat nilai sejarah di kawasan Malioboro, Yogyakarta.
Direktur Utama InJourney Hospitality, Christine Hutabarat, menyebut pengembalian nama ini sebagai bentuk pelestarian sejarah. Hotel yang pertama kali berdiri pada 1911 tersebut telah melewati berbagai fase penting dalam perjalanan bangsa Indonesia.
Perjalanan Panjang Nama dan Identitas Hotel
Sepanjang sejarahnya, hotel ini telah beberapa kali berganti nama, mulai dari Hotel Asahi pada masa pendudukan Jepang, kemudian Hotel Merdeka, Hotel Garuda, Natour Garuda, Ina Garuda, hingga terakhir dikenal sebagai Grand Inna Malioboro sebelum direvitalisasi. Kini, identitas awalnya dihadirkan kembali untuk memperkuat nilai historis yang dimilikinya.
Hotel ini dijadwalkan resmi dibuka kembali pada 16 Maret 2026, dengan konsep yang tidak hanya fokus pada pembaruan fisik, tetapi juga menghadirkan narasi sejarah bagi para tamu.
Menginap Sambil Belajar Sejarah
Salah satu hal menarik dari Grand Hotel De Djokja adalah pendekatan yang menggabungkan akomodasi dengan edukasi. Manajemen menyiapkan buku berjudul “Melihat Indonesia dari Jendela Kamar Hotel” yang akan tersedia di setiap kamar, berisi kisah perjalanan hotel sejak 1911 hingga sekarang.
Hotel ini memiliki total 210 kamar, termasuk 16 kamar heritage yang tetap mempertahankan karakter arsitektur lama. Salah satu kamar bahkan dinamai Sudirman Suite, sebagai penghormatan kepada Jenderal Sudirman yang pernah menginap di sana.
Fasilitas Modern dengan Sentuhan Klasik
Selain kamar, hotel ini juga dilengkapi berbagai fasilitas seperti ballroom berkapasitas 800–900 orang, 18 ruang pertemuan, restoran all day dining, serta restoran Rosso yang masih dalam tahap penyelesaian.
Konsep yang diusung menjadikan hotel ini bukan sekadar tempat menginap, tetapi juga ruang refleksi sejarah, khususnya bagi generasi muda yang ingin mengenal perjalanan bangsa melalui sudut yang berbeda.
Tarif dan Strategi Heritage Collection
Pada masa pembukaan, tarif kamar ditawarkan mulai dari Rp1.911.000 per malam, angka yang terinspirasi dari tahun berdirinya hotel.
Grand Hotel De Djokja menjadi bagian dari strategi InJourney Hospitality dalam menghadirkan diferensiasi melalui Heritage Collection, yaitu menggabungkan pelestarian bangunan bersejarah dengan pengalaman menginap yang autentik di tengah persaingan industri perhotelan.
Memasuki tahun 2026, Yogyakarta tampil semakin menarik sebagai destinasi wisata kelas dunia. Pembangunan infrastruktur seperti tol Jogja–Solo dan Jalur Jalan Lintas Selatan (JJLS) membuat akses ke berbagai wilayah semakin mudah. Dampaknya, wisatawan kini tidak hanya berfokus pada Malioboro atau destinasi populer, tetapi mulai menjelajahi tempat-tempat baru yang lebih alami dan autentik.
Tren Wisata Beralih ke Hidden Gem
Seiring perubahan tren, banyak wisatawan kini mencari pengalaman yang lebih tenang dan dekat dengan alam. Hal ini mendorong munculnya berbagai destinasi baru atau hidden gem di Jogja yang menawarkan pemandangan unik sekaligus spot foto Instagramable.
Rekomendasi Hidden Gem Jogja 2026
Beberapa destinasi terbaru yang patut masuk daftar kunjungan antara lain:
- Geoforest Watu Payung Turunan – Menyuguhkan panorama tebing batu kapur dengan formasi unik dan spot sunrise dramatis yang cocok untuk fotografi alam.
- Jungwok Blue Ocean Gunungkidul – Pantai berpasir putih dengan air jernih dan suasana lebih tenang, lengkap dengan spot foto di atas karang.
- Glamping Forest Kulon Progo – Pengalaman berkemah mewah di tengah hutan tropis dengan fasilitas modern yang nyaman.
- Lava Bantal Heritage Walk Sleman – Jalur wisata edukatif di kawasan geologi dengan formasi batu lava unik hasil aktivitas vulkanik purba.
- Tebing Karst JJLS Viewpoint – Titik pandang baru di jalur selatan dengan panorama laut dan tebing karst yang spektakuler.
Wisata Alam, Edukasi, dan Estetika dalam Satu Paket
Setiap destinasi tidak hanya menawarkan keindahan visual, tetapi juga pengalaman yang lebih dalam, mulai dari edukasi geologi hingga sensasi menyatu dengan alam. Selain itu, spot-spot yang Instagramable menjadikan tempat-tempat ini semakin diminati generasi muda.
Liburan Lebih Praktis dan Menyenangkan
Dengan akses yang semakin mudah, wisata hidden gem di Jogja kini bisa dijangkau tanpa kesulitan. Perjalanan dari luar kota, seperti Jakarta, pun semakin nyaman dengan berbagai pilihan transportasi. Liburan di Jogja kini bukan hanya soal tempat populer, tetapi juga tentang menemukan sisi baru yang lebih tenang dan berkesan.
Yogyakarta bukan sekadar kota pelajar atau pusat kebudayaan Jawa; bagi para pencinta kuliner, ini adalah destinasi tujuan utama. Dalam video bertajuk “Indonesian Street Food Heaven 🇮🇩” yang dirilis oleh Abroad and Hungry pada 1 Desember 2024, kreator video ini membawa kita menelusuri lorong-lorong rasa di Yogyakarta. Dari antrean subuh demi jajanan pasar hingga makan malam di tengah pasar tradisional, perjalanan ini mengungkap 11 kuliner yang “haram” dilewatkan. Artikel ini merangkum pengalaman tersebut secara mendetail agar Anda bisa merasakan sensasinya—tanpa perlu beranjak dari kursi Anda.
Lupis Mbah Satinem: Sarapan Legendaris
Perjalanan dimulai pukul 06.00 pagi. Mbah Satinem bukan sekadar penjual jajanan pasar; ia adalah legenda yang telah berjualan selama bertahun-tahun. Begitu tiba, sistem antrean menggunakan nomor urut sudah berlaku—tanda kepopuleran tempat ini.

Hidangan ini terdiri dari ketan yang dipadatkan (lupis), parutan kelapa, dan komponen lain yang disebut “cenil” dalam budaya Jawa (meski video tidak menyebut nama spesifiknya, hanya mendeskripsikan teksturnya). Kuncinya ada pada gula merah cair (juruh) yang sangat kental, hampir seperti karamel.
Sebuah cerita menarik terungkap: di era Presiden Soeharto, salah satu asistennya pernah membeli lupis di sini untuk sang Presiden. Soeharto sangat menyukainya hingga menjadi pelanggan tetap bersama keluarganya. Momen inilah yang konon melambungkan nama Mbah Satinem.
Gudeg Mbok Lindu: Simbol Yogyakarta
Belum ke Jogja kalau belum makan Gudeg. Warung ini diklaim sebagai salah satu penjual gudeg tertua di Yogyakarta, beroperasi lebih dari 100 tahun (saat ini diteruskan oleh putrinya).

Dalam satu piring penuh kenikmatan, Anda akan menemukan:
- Gudeg: Nangka muda yang dimasak perlahan dengan gula aren dan santan.
- Krecek: Kulit sapi pedas yang dimasak dengan sambal.
- Pelengkap: Ayam, telur bacem, tahu, dan petai (stinky beans).
Berbeda dengan stereotip gudeg yang “manis banget”, versi Mbok Lindu dinilai seimbang. Ada rasa manis, sedikit pahit dari sayuran, dan pedas yang intens dari krecek. “Rasanya seperti makan daging,” ujar sang kreator saat mencicipi nangkanya.
Bakpia Pathok 25: Pabrik Oleh-Oleh
Kunjungan ke pabrik bakpia ini seperti melihat “anak kecil di toko mainan”. Proses pembuatannya masif namun tetap mempertahankan tradisi: memanggang menggunakan arang (charcoal) untuk aroma khas, dan menggunakan rel kereta api bekas sebagai landasan loyang oven!

Sang kreator mencoba bakpia kacang hijau original yang masih hangat (fresh from the oven).
Varian Wajib Coba: Premium Durian
Selain rasa original, varian durian menjadi favorit. Menggunakan durian asli (bukan esens), rasanya creamy dan legit. “Ini bukan esens, ini durian murni,” tegasnya.
Teksturnya digambarkan “renyah di luar, lembut di dalam”. Bakpia di sini bukan sekadar makanan, tapi “potongan kenangan” dari Yogyakarta untuk dibawa pulang.
Mangut Lele Mbah Marto: Pedas & Smokey
Tersembunyi di dalam desa, tempat ini menawarkan pengalaman makan langsung di dapur tradisional (pawon). Mbah Marto yang legendaris masih terlihat mengupas bawang di sana.

Bintang utamanya adalah Mangut Lele: ikan lele yang diasap terlebih dahulu, dipanggang, lalu dimasak dalam kuah santan pedas berwarna merah menyala.
Meskipun warnanya merah garang, rasanya ternyata tidak mengecewakan. “Smoky, manis, ada aroma arang, dan pedas yang sopan,” ungkap narator. Daging lelenya tebal dan berpadu sempurna dengan kuah santan yang gurih. Pengunjung juga bisa mengambil pelengkap seperti gudeg daun singkong dan opor ayam.
Rujak Es Krim Pak Nardi: Panas vs Dingin

Kombinasi yang mungkin terdengar aneh bagi orang asing, tapi sangat masuk akal di lidah lokal: Rujak buah serut ditambah satu skop es krim puter (biasanya rasa kelapa/kopyor berwarna pink).
Sensasinya adalah kontras:
- Rasa: Asam segar dari buah vs Manis creamy dari es krim.
- Suhu: Dingin es krim meredakan pedasnya bumbu rujak.
“Saya disuruh menambahkan sambal,” katanya. Ternyata, tambahan sambal membuat rasanya semakin “nendang” dan menyatukan semua elemen rasa.
Bakmi Jawa Liek Murry: Aroma Arang
Makan malam dengan Bakmi Jawa adalah ritual wajib. Di tempat ini, bakmi dimasak satu per satu menggunakan anglo (tungku tanah liat) dan arang, memberikan aroma smokey yang tidak bisa ditiru kompor gas.

Ada dua varian yang dicoba: Bakmi Godog (Rebus) dan Bakmi Goreng.
- Bahan: Menggunakan ayam kampung dan telur bebek (memberikan rasa lebih gurih/creamy).
- Rasa: Kuahnya dideskripsikan sebagai “elegan dan lembut”. Varian gorengnya lebih manis karena kecap, namun tetap seimbang dengan acar timun dan cabai rawit.
Jenang Bu Gesti: Manisnya Pasar Tradisional
Di dalam pasar tradisional yang ramai, Bu Gesti menyajikan sarapan manis berupa Jenang (bubur sumsum, jenang candil, mutiara). Teksturnya lembut, hangat, dan perpaduan santan serta gula Jawanya pas—”tidak terlalu manis, tapi menenangkan,” menurut ulasan video. Tempat ini sudah beroperasi sejak tahun 1950-an!
Soto Ayam Kadipiro: Kuah Bening Legendaris
Warung soto yang telah berdiri lebih dari 100 tahun. Ciri khasnya adalah kuah bening yang kaya rasa kaldu ayam kampung, dimasak dengan kayu bakar/arang.
Cara makannya adalah dengan meracik sendiri: nasi dicampur suwiran ayam, perkedel kentang, tauge, lalu disiram kuah panas. Jangan lupa tambahkan sambal, kecap, dan jeruk nipis. “Rasanya kompleks, ada kunyit, manis kecap, dan segarnya sambal,” puji sang narator. Minuman pendamping wajib: Sarsaparilla cap Badak.
Mie Lethek: Mie “Kotor” yang Autentik
Perjalanan satu jam ke Bantul untuk melihat pembuatan mie yang sangat unik. “Lethek” berarti kotor atau kusam, merujuk pada warna mie yang kecokelatan karena terbuat dari tepung singkong dan gaplek tanpa pemutih.
Proses Tradisional dengan Sapi
Yang paling mencengangkan adalah proses penggilingan adonan yang masih menggunakan tenaga sapi jantan besar yang berjalan memutar batu gilingan raksasa! Mie ini dikukus, dijemur, dan butuh waktu 2,5 hari untuk siap jual.
Saat dimasak menjadi mie rebus atau goreng, teksturnya al dente dan sedikit kenyal (chewy/rubbery) khas singkong, berbeda dengan mie terigu biasa.
Sate Klathak Pak Bari: Minimalis & Jenius

Di malam hari, pasar ini berubah menjadi surga sate kambing. Sate Klathak punya dua ciri unik:
- Tusukan Jeruji Besi: Menggunakan ruji sepeda (bicycle rims) sebagai tusuk sate. Besi menghantarkan panas ke dalam daging, membuatnya matang sempurna.
- Bumbu Minimalis: Hanya garam dan lada. Rasa lezat murni berasal dari kualitas daging kambing muda.
Sate ini disajikan dengan kuah gulai (kari) encer sebagai celupan. “Dagingnya gila, juicy, gurih,” seru narator berkali-kali menyebut rasanya “ilegal” (saking enaknya).
Tengkleng & Kicik: Kepala Kambing
Masih di lokasi yang sama dengan Pak Bari, video juga menyoroti hidangan “Kicik” atau bagian dari kepala kambing (tengkleng). Bagian seperti telinga, pipi, dan daging kepala dimasak dengan bumbu kecap manis pedas yang kental.
Tekstur kulit dan telinga yang kenyal (crunchy) berpadu dengan bumbu manis gurih. Bagi pencinta jeroan dan tekstur unik, ini adalah penutup malam yang sempurna.
Yogyakarta, Pakualaman, dan Garis Takdir
Jika kita berbicara tentang Yogyakarta, rasanya tidak mungkin lepas dari nuansa sejarah yang kental dan magis. Dari jalanan Malioboro yang riuh hingga sudut-sudut Keraton yang hening, tersimpan cerita panjang tentang kekuasaan, pengorbanan, dan takdir yang membelah tanah Jawa. Kisah ini bukan sekadar tentang siapa yang duduk di singgasana, melainkan bagaimana sebuah dinasti Mataram harus menempuh jalan berliku—terpecah, bertahan, dan akhirnya menyatu dengan republik.

Artikel ini akan mengajak Anda menelusuri lorong waktu, tentang sejarah Yogyakarta dan Pakualaman, mulai dari momen krusial di Giyanti yang memisahkan kakak-beradik, hingga era modern di mana tradisi bersalaman dengan demokrasi. Sebuah perjalanan komprehensif untuk memahami bagaimana Yogyakarta dan Pakualaman menjadi entitas istimewa yang kita kenal hari ini.
Giyanti 1755: Lahirnya Dua Istana
Segala sesuatunya bermula pada tanggal 13 Februari 1755. Di sebuah tempat bernama Giyanti, takdir Mataram Islam berubah selamanya. Disaksikan oleh VOC, dua tokoh besar—Pangeran Mangkubumi dan Raden Mas Suryadi (Pakubuwono III)—sepakat untuk membagi wilayah kekuasaan mereka.
Kasunanan Surakarta tetap dipimpin oleh Pakubuwono III yang saat itu masih muda, berusia 23 tahun. Sementara itu, Pangeran Mangkubumi yang lebih senior (38 tahun) mendapatkan wilayah baru yang kelak dikenal sebagai Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, bergelar Sultan Hamengkubuwono I.
Makna Kata ‘Yogya’
Diceritakan dalam narasi sejarah bahwa nama “Yogya” memiliki makna “baik”, “pas”, atau “pantas”. Mirip dengan frasa “seyogyanya” (sebaiknya). Jadi, Yogyakarta bisa diartikan sebagai tempat yang baik dan makmur, atau pantas untuk menjadi makmur (Karto).
Sultan HB I kemudian memilih hutan di kawasan Pesanggrahan Garjitawati—sebuah tempat peristirahatan pengiring jenazah ke Imogiri—sebagai lokasi istananya. Pada tanggal 13 Maret 1755, proklamasi berdirinya Yogyakarta atau Hadeging Nagari Ngayogyakarta dikumandangkan. Lokasi ini kelak tidak hanya menjadi keraton, tetapi juga mencakup kompleks Taman Sari yang ikonik.
Fase Awal: Gejolak Keluarga dan Istana
Membangun negara baru bukanlah perkara mudah. Sebelum Keraton selesai dibangun, Sultan HB I dan keluarganya harus tinggal sementara di Pesanggrahan Ambarketawang, Gamping, Sleman. Di masa-masa awal ini, HB I didampingi oleh dua permaisuri utama, Gusti Kanjeng Ratu Kencana dan Gusti Kanjeng Ratu Kadipaten.
Namun, suasana damai itu terusik. Raden Mas Said, keponakan HB I yang berjuluk Pangeran Sambernyawa, merasa dikhianati karena tidak dilibatkan dalam Perjanjian Giyanti. Ia mengamuk, bahkan sempat menyerang dan merusak bangunan Keraton Yogyakarta yang baru setengah jadi.
Konflik ini baru mereda lewat Perjanjian Salatiga (1757), yang memecah lagi sebagian wilayah Surakarta untuk RM Said, melahirkan entitas ketiga: Mangkunegaran.
Gelombang Perubahan: Dari Pakepung hingga Inggris
1790 : Peristiwa Pakepung
Surakarta dikepung oleh gabungan kekuatan Yogya, Mangkunegaran, dan VOC karena PB IV dianggap membahayakan dengan sikap anti-Belandanya. PB IV akhirnya menyerah.
1792 : Wafatnya HB I
Pendiri Yogyakarta, Sultan Hamengkubuwono I, wafat pada usia 74 tahun. Tahta diteruskan oleh putranya, Sultan HB II, yang sangat membenci VOC.
1800 : Bubarnya VOC
VOC resmi bangkrut dan dibubarkan. Kekuasaan beralih ke Pemerintah Belanda (saat itu Republik Bataaf/Prancis), memunculkan tokoh keras seperti Daendels.
1811 : Invasi Inggris
Inggris di bawah Raffles merebut Jawa. HB II yang sempat turun tahta kembali naik, namun sikap kerasnya membuat Inggris menyerang Yogyakarta dalam peristiwa Geger Sapehi.
Lahirnya Pakualaman: Entitas Keempat

Kekalahan HB II dalam Geger Sapehi (1812) membawa konsekuensi besar. Inggris tidak hanya menjarah harta karun keraton, tetapi juga memecah kekuasaan Yogyakarta. Sebagai hadiah atas “jasanya” membantu Inggris (atau lebih tepatnya karena terpaksa menjadi mata-mata), Pangeran Natakusuma—adik HB II—diangkat menjadi Paku Alam I pada tahun 1813.

Inilah momen lahirnya Kadipaten Pakualaman, entitas mandiri di dalam wilayah Yogyakarta. Dengan demikian, Dinasti Mataram resmi terbagi menjadi empat: Kasunanan, Kasultanan, Mangkunegaran, dan Pakualaman. Tak lama setelah gejolak ini, Sultan HB III wafat pada 1814, meninggalkan tahta kepada putra belianya.
Pusaran Konflik: Perang Diponegoro
Memasuki abad ke-19, tanah Jawa membara. Belanda kembali berkuasa setelah Inggris pergi, dan Kerajaan Belanda modern di bawah Raja Willem I mulai menancapkan kuku kolonialismenya. Di Yogyakarta, kematian mendadak HB IV (1823) dan wafatnya HB II (1828) serta Paku Alam I memperkeruh suasana.
Ketidakadilan, pajak tinggi, dan campur tangan Belanda memicu kemarahan Pangeran Diponegoro. Perang Jawa (1825-1830) pun pecah. Ini adalah perang yang sangat melelahkan bagi kedua belah pihak.
Perang berakhir dengan tipu muslihat. Pangeran Diponegoro ditangkap saat perundingan di Magelang. Imbasnya tidak hanya dirasakan Yogya; Pakubuwono VI dari Surakarta yang diam-diam mendukung Diponegoro pun ditangkap dan diasingkan ke Ambon. Untuk memecah belah persatuan mental rakyat Jawa, Belanda kemudian menggunakan propaganda budaya, salah satunya lewat Serat Darmogandhul yang isinya mendiskreditkan Islam dan para Wali.
Suryomentaram: Sang Filsuf Istana

Di tengah kemewahan keraton era “Sultan Sugih”, lahirlah seorang pangeran yang memilih jalan sunyi. Ki Ageng Suryomentaram, putra HB VII, menolak hidup di dalam benteng istana. Ia memilih keluar, berbaur dengan rakyat jelata, dan menggali makna kebahagiaan sejati.
Ajarannya tentang Kawruh Jiwa (ilmu jiwa) menjadi warisan intelektual yang sangat berharga bagi masyarakat Jawa modern, mengajarkan cara mengelola rasa dan ego tanpa terikat materi.
Menuju Era Modern
Kekayaan Yogyakarta dari industri gula tidak hanya dinikmati sendiri, tetapi juga menjadi bahan bakar pergerakan nasional.
1908
Berdirinya Boedi Oetomo, didukung fasilitas Keraton (Loji Mataram).
1912
Kyai Ahmad Dahlan, abdi dalem keraton, mendirikan Muhammadiyah.
1921
Naik tahtanya HB VIII, yang sangat peduli pada pendidikan putra-putrinya.
Masa Muda HB IX dan Jalan Menuju Tahta

Salah satu putra HB VIII, RM Dorojatun, dikirim sekolah ke Belanda sejak kecil. Dididik dalam keluarga Mulder, ia tumbuh menjadi pemuda yang mandiri, “Barat” dalam pikiran namun tetap Jawa dalam jiwa.
Panggilan pulang datang saat Perang Dunia II mulai membayangi Eropa (1939). Sang ayah menjemputnya di Batavia dan menyerahkan Keris Kyai Jaka Piturun—tanda suksesi. Tak lama kemudian, HB VIII wafat. RM Dorojatun naik tahta sebagai Sultan Hamengkubuwono IX pada 1940, di tengah desakan Belanda untuk menandatangani kontrak politik baru. Dengan visi tajam, ia menandatanganinya karena yakin: “Belanda akan segera pergi.”
Detik-Detik Kemerdekaan

Ramalan HB IX terbukti. Jepang datang (1942), Belanda menyerah. Di masa sulit ini, HB IX menyelamatkan rakyatnya dari Romusha dengan proyek irigasi “Selokan Mataram”.
Menjelang proklamasi, Pakubuwono X wafat. Ketika Soekarno—yang silsilahnya juga terhubung dengan keluarga kerajaan—memproklamasikan kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945, Yogyakarta dan Pakualaman bergerak cepat.
Pada 5 September 1945, HB IX dan Paku Alam VIII mengeluarkan amanat bersejarah: Keraton Yogyakarta dan Kadipaten Pakualaman bergabung sepenuhnya ke dalam Republik Indonesia.
Benteng Republik: 1945–1949
Yogyakarta bukan sekadar daerah, tapi nyawa bagi Republik muda ini.
1946 : Ibukota Pindah
Jakarta tidak aman. Atas undangan Sultan, ibukota RI pindah ke Yogyakarta. Sultan membiayai operasional pemerintahan dengan kas keraton.
1948: Agresi Militer II
Belanda menyerang Yogya (Operasi Gagak). Soekarno-Hatta ditangkap. Sultan mundur dari jabatan Gubernur sebagai protes dan menolak bekerja sama dengan Belanda.
1949: Serangan Umum 1 Maret
Inisiatif Sultan dan Jenderal Sudirman (dilaksanakan Letkol Soeharto) untuk membuktikan TNI masih ada. Serangan 6 jam yang membuka mata dunia.
1949: Kedaulatan Kembali
Pasca Roem-Royen, ibukota kembali ke Yogya, lalu pemerintahan diserahkan kembali ke Jakarta setelah pengakuan kedaulatan (RIS).
Transisi: Dari HB IX ke HB X

Setelah perang usai, HB IX terus mengabdi sebagai menteri di berbagai kabinet hingga menjadi Wakil Presiden RI (1973-1978). Ia wafat pada 1988 di Amerika Serikat, meninggalkan duka mendalam bagi rakyatnya.
Tahta kemudian diteruskan oleh putranya, BRM Herjuno Darpito, yang bergelar Sultan Hamengkubuwono X (naik tahta 1989). HB X membawa tradisi baru: ia menjadi raja pertama yang tidak berpoligami. Selain sebagai Sultan, ia juga menjabat sebagai Gubernur DIY, melanjutkan status istimewa yang diwariskan sang ayah.
Tradisi yang Bernafas di Masa Depan

Dari Giyanti hingga hari ini, sejarah Yogyakarta dan Pakualaman adalah bukti ketahanan budaya. Di tengah gempuran zaman, Keraton tidak menjadi fosil, melainkan tetap hidup sebagai jantung masyarakatnya. Sultan bukan hanya simbol, tapi pemimpin nyata dalam struktur republik. Di bawah langit senja Tugu yang tak pernah berubah, Yogyakarta mengajarkan kita bahwa takdir bangsa ini dirajut dari benang-benang sejarah yang tak boleh putus.
Bocoran destinasi hits buat liburan seru tahun depan!
Buat kamu yang lagi nyusun rencana liburan ke Jogja, artikel ini pas banget buat jadi panduan awal. Di sini, kita bakal mengintip rangkuman dari sebuah konten video rekomendasi yang membahas 16 destinasi wisata paling hits dan terbaru di Yogyakarta. Si pembuat konten menyusun daftar ini khusus buat para pelancong yang pengen liburan bareng teman satu geng atau keluarga tercinta.
Sekilas Info
Artikel ini ditulis dengan gaya santai tapi tetap faktual, ya! Semua info di sini murni diambil dari apa yang disampaikan dalam konten sumbernya. Jadi, kalau nanti kamu nggak nemu info soal harga tiket atau jam buka, itu karena memang si kreator videonya nggak nyebutin detail itu. Kita bakal kasih tanda khusus biar kamu nggak bingung.
Jogja Singkat: Kenapa Selalu Bikin Kangen?
Alasannya simpel: Jogja itu paket lengkap! Mulai dari wisata budaya yang kental, bentang alam yang memanjakan mata, surga kuliner yang bikin lidah bergoyang, sampai spot-spot kekinian yang Instagramable banget, semua ada di sini.
Secara garis besar, pesona Jogja dibagi ke dalam beberapa wilayah utama yang jadi pusat keramaian turis:
- Kota Jogja: Pusat keramaian dan nostalgia.
- Gunungkidul: Surganya pantai dan wisata alam ekstrem.
- Bantul: Gudangnya seniman dan pemandangan asri.
- Kulon Progo: Destinasi yang lagi naik daun dengan bandara barunya.
- Sleman: Identik dengan Merapi dan hawa sejuknya.
Malioboro

Kita mulai dari yang paling ikonik, Malioboro! Masuk dalam daftar rekomendasi, kawasan ini emang nggak pernah mati. Disebut sebagai salah satu destinasi utama, Malioboro selalu punya magnet tersendiri dengan suasana jalanannya yang khas, deretan toko, dan hiruk-pikuk wisatawan yang menikmati malam Jogja. Sayangnya, konten sumber tidak merinci jam operasional toko atau harga jajanan di sana.
Tebing Breksi

Selanjutnya ada Tebing Breksi. Tempat ini unik banget karena dulunya adalah bekas tambang yang disulap jadi karya seni raksasa. Dinding-dinding tebing kapurnya dipahat dengan relief artistik yang bikin siapa saja terpukau.
HeHa Ocean View

Geser ke destinasi selanjutnya, ada HeHa Ocean View yang lagi hits banget. Daya tarik utamanya jelas: pemandangan laut lepas yang dipadukan dengan spot-spot foto super kece. Tempat ini didesain buat kamu yang hobi ngonten atau sekadar menikmati angin laut dengan gaya.
Puncak Segoro

Di destinasi lain, ada Puncak Segoro. Bayangkan menikmati hamparan laut biru dari ketinggian tebing—itu dia nuansa yang ditawarkan tempat ini. Konsepnya sering dibilang mirip-mirip destinasi tepi laut di luar negeri.
Obelix Sea View

Masih soal pemandangan laut, Obelix Sea View jadi opsi pilihan Anda. Tempat ini digadang-gadang sebagai spot asik buat nongkrong, terutama pas momen matahari terbenam alias sunset. Suasananya yang santai bikin betah berlama-lama.
Air Terjun Sri Gethuk

Buat yang pengen yang seger-seger, Air Terjun Sri Gethuk wajib jadi pilihan. Destinasi alam ini terkenal dengan aliran airnya yang membelah tebing bebatuan karst dan dikelilingi pepohonan hijau yang asri. Suasananya tenang dan damai banget.
Pantai Glagah

Pantai Glagah di Kulon Progo ini punya ciri khas yang beda, yaitu deretan pemecah ombak (tetrapod) yang menjorok ke laut. Masuk di urutan pantai ini juga punya laguna yang tenang. Pemandangan ombak yang pecah menghantam beton jadi atraksi visual tersendiri.
Pantai Parangtritis

Legenda wisata Jogja, Pantai Parangtritis, tetap eksis di daftar wajid kunjungan. Dikenal dengan garis pantainya yang super panjang dan pasir hitamnya yang eksotis, tempat ini juga identik dengan suasana mistis dan romantis sekaligus, apalagi saat senja.
Pictniq Gunung Kidul
Selanjutnya ada Pictniq Gunung Kidul. Dari namanya aja udah kebayang kan suasana piknik seru di area terbuka? Tempat ini disebut-sebut sebagai destinasi asik buat santai bareng teman.
iBarbo Park
Lanjut ke nomor lain ada iBarbo Park. Dengar namanya, mungkin terlintas konsep taman hiburan atau tempat rekreasi keluarga yang penuh warna. Destinasi ini direkomendasikan buat masuk bucket list kamu.
Gesing Wonderland
Di urutan selanjutnya ada Gesing Wonderland. Nama “Wonderland” seolah menjanjikan dunia keajaiban di tepi pantai Gesing. Tempat ini sepertinya menawarkan konsep wisata kekinian yang memadukan keindahan alam pantai dengan sentuhan modern.
Drini Park
Drini Park hadir di posisi list wajib. Berlokasi di kawasan pantai Drini yang terkenal, tempat ini kemungkinan besar menawarkan area rekreasi dengan bonus pemandangan laut selatan yang ciamik.
Pantai Ngobaran
Pantai Ngobaran yang punya julukan “Bali-nya Jogja”. Kenapa? Karena nuansa budaya dan keberadaan bangunan puranya yang kental banget. Eksotis dan beda dari pantai lainnya!
Pantai Ngrenehan
Tepat setelah Ngobaran, ada Pantai Ngrenehan. Pantai ini berupa teluk kecil yang terlindung bukit karang, jadi ombaknya cenderung lebih tenang. Biasanya sih identik dengan aktivitas nelayan dan perahu-perahu yang bersandar.
Pasar Ngasem
Buat yang suka suasana tradisional, Pasar Ngasem wajib dilirik. Pasar ini punya sejarah panjang dan atmosfer yang “Jogja banget”. Cocok buat kamu yang pengen ngerasain denyut kehidupan warga lokal.
Pawon Mbah Gito
Menutup daftar, ada Pawon Mbah Gito. Dari namanya, tempat ini memancarkan aura kuliner tradisional dengan suasana pedesaan yang hangat dan homy. Kayak makan di dapur nenek sendiri!
Nah, itu dia rangkuman 16 tempat wisata Jogja yang diprediksi bakal makin hits di tahun 2025 menurut sumber video rekomendasi kita. Semua nama sudah kita spill satu per satu. Ingat ya, artikel ini cuma kulit luarnya aja. Kalau kamu pengen lihat visual aslinya biar makin yakin, langsung aja klik tautan-tautan yang udah disediain di atas.
Selamat menyusun itinerary liburan kamu! Semoga persiapannya lancar walau info detail teknisnya harus kamu cari tahu lebih lanjut. Happy holiday!
Yogyakarta, Destinasi Favorit Liburan Ramah Budget
Yogyakarta kembali menjadi salah satu destinasi favorit wisatawan untuk menghabiskan liburan akhir tahun tanpa harus merogoh kocek terlalu dalam. Selain kaya akan budaya dan wisata, Jogja juga menawarkan banyak penginapan estetik dengan harga terjangkau, menjadikannya pilihan ideal untuk liburan santai.
Tren Staycation yang Kian Digemari
Belakangan ini, konsep staycation semakin diminati. Banyak wisatawan memilih beristirahat di penginapan yang nyaman sambil menikmati suasana kota. Dengan desain yang menarik dan fasilitas memadai, staycation di Jogja tetap terasa berkesan meski dengan anggaran terbatas.
Penginapan Estetik dengan Harga Terjangkau
Beragam penginapan di Yogyakarta menawarkan konsep unik, mulai dari gaya bohemian, tradisional Jawa modern, hingga nuansa tropis ala Bali. Harga per malamnya pun relatif ramah di kantong, rata-rata berada di kisaran Rp300 ribu hingga Rp600 ribu, tergantung tipe kamar dan fasilitas yang dipilih.
Rekomendasi Penginapan untuk Staycation di Jogja
Beberapa penginapan yang kerap menjadi favorit antara lain Por Aqui Stay & Dine dengan konsep boho Meksiko yang penuh warna, Omah Lumbung yang menghadirkan suasana Jawa klasik nan tenang, serta Villa La Luna yang menawarkan nuansa tropis dengan kolam privat. Ada pula Tigalima Homestay yang homey dan dekat pusat kota, serta The Cube Malioboro dengan kolam renang rooftop dan lokasi strategis.
Liburan Nyaman Tanpa Boros
Dengan banyaknya pilihan penginapan estetik dan terjangkau, staycation di Yogyakarta menjadi solusi liburan akhir tahun yang sederhana namun tetap menyenangkan. Wisatawan tetap bisa menikmati kenyamanan, suasana baru, dan pengalaman menginap yang unik tanpa harus menguras anggaran.
Perlu dicatat, harga menginap dapat berubah sewaktu-waktu tergantung tipe kamar, waktu pemesanan, dan promo yang tersedia. Perencanaan yang tepat akan membuat liburan di Jogja semakin hemat dan berkesan.
Baca / Sumber berita : ANTARA
Serat larut merupakan salah satu nutrisi penting yang berperan besar dalam menjaga kesehatan pencernaan. Jenis serat ini bekerja dengan menyerap air dan membentuk zat menyerupai gel di dalam usus, sehingga membantu pergerakan usus menjadi lebih teratur. Kekurangan serat larut dapat memicu masalah seperti kembung, sembelit, hingga pencernaan yang terasa lambat.
Dampak Positif Serat Larut bagi Kesehatan
Dikutip dari Hindustan Times, serat larut tidak hanya mendukung kelancaran buang air besar, tetapi juga membantu menurunkan kadar kolesterol jahat dalam tubuh. Dengan pencernaan yang sehat, metabolisme tubuh pun dapat bekerja lebih optimal.
Rekomendasi Makanan Kaya Serat Larut
Konsultan Transplantasi Hati dan Ahli Bedah Gastrointestinal di Rumah Sakit Wockhardt, India, Swapnil Sharma, menyarankan beberapa makanan kaya serat larut untuk mendukung kesehatan usus. Di antaranya adalah oat, yang membantu melunakkan tinja, serta apel dengan kulitnya yang kaya pektin sebagai makanan bagi bakteri baik di usus.
Pilihan Buah dan Biji untuk Pencernaan Sehat
Buah jeruk menjadi pilihan ringan yang membantu hidrasi sekaligus menjaga pencernaan tetap aktif. Pir matang juga sangat bermanfaat karena mampu menyerap air ke dalam tinja, sehingga memudahkan buang air besar. Selain itu, biji rami yang direndam atau digiling serta kacang-kacangan dapat membantu melumasi usus dan menjaga konsistensi feses.
Sayuran dan Umbi yang Mengenyangkan
Wortel dan ubi jalar juga dianjurkan karena mengandung serat larut yang lembut bagi usus. Kedua bahan ini membantu pergerakan usus tanpa memberi rasa berat, sekaligus membuat tubuh lebih kenyang dan bertenaga.
Cara Konsumsi dan Kebutuhan Harian Serat
Dr. Swapnil menyarankan agar konsumsi makanan berserat dilakukan secara bertahap sepanjang hari, bukan sekaligus dalam jumlah besar. Selain itu, asupan air yang cukup sangat penting agar serat dapat bekerja secara efektif. Sebagai panduan, Institut Kesehatan Nasional AS menyebutkan bahwa wanita usia 19–50 tahun membutuhkan sekitar 25 gram serat per hari, sementara pria pada rentang usia yang sama memerlukan sekitar 38 gram.
Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya, menilai industri musik hingga animasi di Yogyakarta sebagai aset ekonomi kreatif yang patut didukung dan dibanggakan secara nasional. Menurutnya, Yogyakarta memiliki keunggulan kuat dalam pendidikan, storytelling, hingga kemampuan monetisasi karya kreatif.
Ia menegaskan bahwa Kementerian Ekonomi Kreatif siap mendorong proses komersialisasi bagi para pegiat ekonomi kreatif di Yogyakarta agar mampu bersaing dan memberi kontribusi nyata bagi perekonomian nasional.
Yogyakarta sebagai Paket Lengkap Ekonomi Kreatif
Dalam kunjungan saat libur Natal dan Tahun Baru, Menteri Ekraf melihat Yogyakarta sebagai daerah dengan paket lengkap ekonomi kreatif. Budaya, sejarah, kuliner, wisata belanja, hingga kearifan lokal berpadu menjadi daya tarik yang memperkuat ekosistem ekraf berbasis daerah.
Momentum libur akhir tahun ini dimanfaatkan untuk meninjau langsung geliat subsektor unggulan dan bertemu para pelaku kreatif yang telah menembus pasar nasional hingga internasional.
Dukungan untuk Musik Lokal dan Talenta Berkelanjutan
Dalam kunjungannya, Menteri Riefky bertemu dengan musisi lokal Ndarboy Genk, yang sebelumnya telah berkolaborasi dalam Program Akselerasi Kreatif Musik Kementerian Ekraf. Dukungan diberikan mulai dari produksi video klip, penyelenggaraan konser luar negeri, hingga pemberdayaan talenta lokal secara berkelanjutan.
Ndarboy Genk menyampaikan apresiasi atas dukungan Kementerian Ekraf yang membuka peluang kolaborasi lintas komunitas, termasuk seniman disabilitas, serta mendorong monetisasi karya musik agar berdampak langsung pada ekonomi kreatif.
Animasi dan Film Dinilai Jadi Mesin Pertumbuhan Baru
Menteri Ekraf juga meninjau MSV Pictures di Universitas AMIKOM Yogyakarta. Ia menyoroti peran penting subsektor film, animasi, dan video dalam menciptakan lapangan kerja berkualitas dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
Menurutnya, tahun 2026 berpotensi menjadi momentum kebangkitan industri animasi Indonesia. Pemerintah pun tengah menyiapkan skema insentif bagi subsektor film, animasi, video, gim, dan aplikasi untuk menarik investasi baru.
Kampus Jadi Pusat Penguatan Ekosistem Ekraf
Keberhasilan Universitas AMIKOM Yogyakarta dinilai sebagai contoh kuat pengembangan ekonomi kreatif berbasis perguruan tinggi. Kampus tidak hanya mencetak lulusan profesional, tetapi juga wirausaha dan kreator yang mampu bersaing secara global.
Rektor Universitas AMIKOM Yogyakarta, Muhammad Suyanto, menegaskan bahwa subsektor film, animasi, dan video terus didorong sebagai lokomotif ekonomi kreatif yang berdampak luas, sekaligus memperkuat posisi Indonesia di pasar global.
Baca / Sumber berita : ANTARA