Takdir Para Raja: Sejarah Yogyakarta dan Pakualaman

Yogyakarta, Pakualaman, dan Garis Takdir

    Jika kita berbicara tentang Yogyakarta, rasanya tidak mungkin lepas dari nuansa sejarah yang kental dan magis. Dari jalanan Malioboro yang riuh hingga sudut-sudut Keraton yang hening, tersimpan cerita panjang tentang kekuasaan, pengorbanan, dan takdir yang membelah tanah Jawa. Kisah ini bukan sekadar tentang siapa yang duduk di singgasana, melainkan bagaimana sebuah dinasti Mataram harus menempuh jalan berliku—terpecah, bertahan, dan akhirnya menyatu dengan republik.

    Keraton Yogyakarta pusat budaya dan sejarah Mataram Islam
    Keraton Yogyakarta pusat budaya dan sejarah Mataram Islam

    Artikel ini akan mengajak Anda menelusuri lorong waktu, tentang sejarah Yogyakarta dan Pakualaman, mulai dari momen krusial di Giyanti yang memisahkan kakak-beradik, hingga era modern di mana tradisi bersalaman dengan demokrasi. Sebuah perjalanan komprehensif untuk memahami bagaimana Yogyakarta dan Pakualaman menjadi entitas istimewa yang kita kenal hari ini.

    Giyanti 1755: Lahirnya Dua Istana

      Segala sesuatunya bermula pada tanggal 13 Februari 1755. Di sebuah tempat bernama Giyanti, takdir Mataram Islam berubah selamanya. Disaksikan oleh VOC, dua tokoh besar—Pangeran Mangkubumi dan Raden Mas Suryadi (Pakubuwono III)—sepakat untuk membagi wilayah kekuasaan mereka.

      Kasunanan Surakarta tetap dipimpin oleh Pakubuwono III yang saat itu masih muda, berusia 23 tahun. Sementara itu, Pangeran Mangkubumi yang lebih senior (38 tahun) mendapatkan wilayah baru yang kelak dikenal sebagai Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, bergelar Sultan Hamengkubuwono I.

      Makna Kata ‘Yogya’

      Diceritakan dalam narasi sejarah bahwa nama “Yogya” memiliki makna “baik”, “pas”, atau “pantas”. Mirip dengan frasa “seyogyanya” (sebaiknya). Jadi, Yogyakarta bisa diartikan sebagai tempat yang baik dan makmur, atau pantas untuk menjadi makmur (Karto).

      Sultan HB I kemudian memilih hutan di kawasan Pesanggrahan Garjitawati—sebuah tempat peristirahatan pengiring jenazah ke Imogiri—sebagai lokasi istananya. Pada tanggal 13 Maret 1755, proklamasi berdirinya Yogyakarta atau Hadeging Nagari Ngayogyakarta dikumandangkan. Lokasi ini kelak tidak hanya menjadi keraton, tetapi juga mencakup kompleks Taman Sari yang ikonik.

      Fase Awal: Gejolak Keluarga dan Istana

      Membangun negara baru bukanlah perkara mudah. Sebelum Keraton selesai dibangun, Sultan HB I dan keluarganya harus tinggal sementara di Pesanggrahan Ambarketawang, Gamping, Sleman. Di masa-masa awal ini, HB I didampingi oleh dua permaisuri utama, Gusti Kanjeng Ratu Kencana dan Gusti Kanjeng Ratu Kadipaten.

      Namun, suasana damai itu terusik. Raden Mas Said, keponakan HB I yang berjuluk Pangeran Sambernyawa, merasa dikhianati karena tidak dilibatkan dalam Perjanjian Giyanti. Ia mengamuk, bahkan sempat menyerang dan merusak bangunan Keraton Yogyakarta yang baru setengah jadi.

      Konflik ini baru mereda lewat Perjanjian Salatiga (1757), yang memecah lagi sebagian wilayah Surakarta untuk RM Said, melahirkan entitas ketiga: Mangkunegaran.

      Gelombang Perubahan: Dari Pakepung hingga Inggris

        1790 : Peristiwa Pakepung

        Surakarta dikepung oleh gabungan kekuatan Yogya, Mangkunegaran, dan VOC karena PB IV dianggap membahayakan dengan sikap anti-Belandanya. PB IV akhirnya menyerah.

        1792 : Wafatnya HB I

        Pendiri Yogyakarta, Sultan Hamengkubuwono I, wafat pada usia 74 tahun. Tahta diteruskan oleh putranya, Sultan HB II, yang sangat membenci VOC.

        1800 : Bubarnya VOC

        VOC resmi bangkrut dan dibubarkan. Kekuasaan beralih ke Pemerintah Belanda (saat itu Republik Bataaf/Prancis), memunculkan tokoh keras seperti Daendels.

        1811 : Invasi Inggris

        Inggris di bawah Raffles merebut Jawa. HB II yang sempat turun tahta kembali naik, namun sikap kerasnya membuat Inggris menyerang Yogyakarta dalam peristiwa Geger Sapehi.

        Lahirnya Pakualaman: Entitas Keempat

        Gerbang Puro Pakualaman
        Gerbang Puro Pakualaman

        Kekalahan HB II dalam Geger Sapehi (1812) membawa konsekuensi besar. Inggris tidak hanya menjarah harta karun keraton, tetapi juga memecah kekuasaan Yogyakarta. Sebagai hadiah atas “jasanya” membantu Inggris (atau lebih tepatnya karena terpaksa menjadi mata-mata), Pangeran Natakusuma—adik HB II—diangkat menjadi Paku Alam I pada tahun 1813.

        Puro Pakualaman
        Puro Pakualaman

        Inilah momen lahirnya Kadipaten Pakualaman, entitas mandiri di dalam wilayah Yogyakarta. Dengan demikian, Dinasti Mataram resmi terbagi menjadi empat: Kasunanan, Kasultanan, Mangkunegaran, dan Pakualaman. Tak lama setelah gejolak ini, Sultan HB III wafat pada 1814, meninggalkan tahta kepada putra belianya.

        Pusaran Konflik: Perang Diponegoro

          Memasuki abad ke-19, tanah Jawa membara. Belanda kembali berkuasa setelah Inggris pergi, dan Kerajaan Belanda modern di bawah Raja Willem I mulai menancapkan kuku kolonialismenya. Di Yogyakarta, kematian mendadak HB IV (1823) dan wafatnya HB II (1828) serta Paku Alam I memperkeruh suasana.

          Ketidakadilan, pajak tinggi, dan campur tangan Belanda memicu kemarahan Pangeran Diponegoro. Perang Jawa (1825-1830) pun pecah. Ini adalah perang yang sangat melelahkan bagi kedua belah pihak.

          Perang berakhir dengan tipu muslihat. Pangeran Diponegoro ditangkap saat perundingan di Magelang. Imbasnya tidak hanya dirasakan Yogya; Pakubuwono VI dari Surakarta yang diam-diam mendukung Diponegoro pun ditangkap dan diasingkan ke Ambon. Untuk memecah belah persatuan mental rakyat Jawa, Belanda kemudian menggunakan propaganda budaya, salah satunya lewat Serat Darmogandhul yang isinya mendiskreditkan Islam dan para Wali.

          Suryomentaram: Sang Filsuf Istana

          Keraton Yogyakarta
          Keraton Yogyakarta

          Di tengah kemewahan keraton era “Sultan Sugih”, lahirlah seorang pangeran yang memilih jalan sunyi. Ki Ageng Suryomentaram, putra HB VII, menolak hidup di dalam benteng istana. Ia memilih keluar, berbaur dengan rakyat jelata, dan menggali makna kebahagiaan sejati.

          Ajarannya tentang Kawruh Jiwa (ilmu jiwa) menjadi warisan intelektual yang sangat berharga bagi masyarakat Jawa modern, mengajarkan cara mengelola rasa dan ego tanpa terikat materi.

          Menuju Era Modern

            Kekayaan Yogyakarta dari industri gula tidak hanya dinikmati sendiri, tetapi juga menjadi bahan bakar pergerakan nasional.

            1908

            Berdirinya Boedi Oetomo, didukung fasilitas Keraton (Loji Mataram).

            1912

            Kyai Ahmad Dahlan, abdi dalem keraton, mendirikan Muhammadiyah.

            1921

            Naik tahtanya HB VIII, yang sangat peduli pada pendidikan putra-putrinya.

            Masa Muda HB IX dan Jalan Menuju Tahta

            Sri Sultan Hamengkubuwono IX
            Sri Sultan Hamengkubuwono IX

            Salah satu putra HB VIII, RM Dorojatun, dikirim sekolah ke Belanda sejak kecil. Dididik dalam keluarga Mulder, ia tumbuh menjadi pemuda yang mandiri, “Barat” dalam pikiran namun tetap Jawa dalam jiwa.

            Panggilan pulang datang saat Perang Dunia II mulai membayangi Eropa (1939). Sang ayah menjemputnya di Batavia dan menyerahkan Keris Kyai Jaka Piturun—tanda suksesi. Tak lama kemudian, HB VIII wafat. RM Dorojatun naik tahta sebagai Sultan Hamengkubuwono IX pada 1940, di tengah desakan Belanda untuk menandatangani kontrak politik baru. Dengan visi tajam, ia menandatanganinya karena yakin: “Belanda akan segera pergi.”

            Detik-Detik Kemerdekaan

              Tugu Yogyakarta 2
              Tugu Yogyakarta 2

              Ramalan HB IX terbukti. Jepang datang (1942), Belanda menyerah. Di masa sulit ini, HB IX menyelamatkan rakyatnya dari Romusha dengan proyek irigasi “Selokan Mataram”.

              Menjelang proklamasi, Pakubuwono X wafat. Ketika Soekarno—yang silsilahnya juga terhubung dengan keluarga kerajaan—memproklamasikan kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945, Yogyakarta dan Pakualaman bergerak cepat.

              Pada 5 September 1945, HB IX dan Paku Alam VIII mengeluarkan amanat bersejarah: Keraton Yogyakarta dan Kadipaten Pakualaman bergabung sepenuhnya ke dalam Republik Indonesia.

              Benteng Republik: 1945–1949

                Yogyakarta bukan sekadar daerah, tapi nyawa bagi Republik muda ini.

                1946 : Ibukota Pindah

                Jakarta tidak aman. Atas undangan Sultan, ibukota RI pindah ke Yogyakarta. Sultan membiayai operasional pemerintahan dengan kas keraton.

                1948: Agresi Militer II

                Belanda menyerang Yogya (Operasi Gagak). Soekarno-Hatta ditangkap. Sultan mundur dari jabatan Gubernur sebagai protes dan menolak bekerja sama dengan Belanda.

                1949: Serangan Umum 1 Maret

                Inisiatif Sultan dan Jenderal Sudirman (dilaksanakan Letkol Soeharto) untuk membuktikan TNI masih ada. Serangan 6 jam yang membuka mata dunia.

                1949: Kedaulatan Kembali

                Pasca Roem-Royen, ibukota kembali ke Yogya, lalu pemerintahan diserahkan kembali ke Jakarta setelah pengakuan kedaulatan (RIS).

                Transisi: Dari HB IX ke HB X

                Sri Sultan HB IX
                Sri Sultan HB IX

                Setelah perang usai, HB IX terus mengabdi sebagai menteri di berbagai kabinet hingga menjadi Wakil Presiden RI (1973-1978). Ia wafat pada 1988 di Amerika Serikat, meninggalkan duka mendalam bagi rakyatnya.

                Tahta kemudian diteruskan oleh putranya, BRM Herjuno Darpito, yang bergelar Sultan Hamengkubuwono X (naik tahta 1989). HB X membawa tradisi baru: ia menjadi raja pertama yang tidak berpoligami. Selain sebagai Sultan, ia juga menjabat sebagai Gubernur DIY, melanjutkan status istimewa yang diwariskan sang ayah.

                Tradisi yang Bernafas di Masa Depan

                Tugu Yogyakarta
                Tugu Yogyakarta

                Dari Giyanti hingga hari ini, sejarah Yogyakarta dan Pakualaman adalah bukti ketahanan budaya. Di tengah gempuran zaman, Keraton tidak menjadi fosil, melainkan tetap hidup sebagai jantung masyarakatnya. Sultan bukan hanya simbol, tapi pemimpin nyata dalam struktur republik. Di bawah langit senja Tugu yang tak pernah berubah, Yogyakarta mengajarkan kita bahwa takdir bangsa ini dirajut dari benang-benang sejarah yang tak boleh putus.

                Bocoran destinasi hits buat liburan seru tahun depan!

                Buat kamu yang lagi nyusun rencana liburan ke Jogja, artikel ini pas banget buat jadi panduan awal. Di sini, kita bakal mengintip rangkuman dari sebuah konten video rekomendasi yang membahas 16 destinasi wisata paling hits dan terbaru di Yogyakarta. Si pembuat konten menyusun daftar ini khusus buat para pelancong yang pengen liburan bareng teman satu geng atau keluarga tercinta.

                Sekilas Info

                Artikel ini ditulis dengan gaya santai tapi tetap faktual, ya! Semua info di sini murni diambil dari apa yang disampaikan dalam konten sumbernya. Jadi, kalau nanti kamu nggak nemu info soal harga tiket atau jam buka, itu karena memang si kreator videonya nggak nyebutin detail itu. Kita bakal kasih tanda khusus biar kamu nggak bingung.

                Jogja Singkat: Kenapa Selalu Bikin Kangen?

                Alasannya simpel: Jogja itu paket lengkap! Mulai dari wisata budaya yang kental, bentang alam yang memanjakan mata, surga kuliner yang bikin lidah bergoyang, sampai spot-spot kekinian yang Instagramable banget, semua ada di sini.

                Secara garis besar, pesona Jogja dibagi ke dalam beberapa wilayah utama yang jadi pusat keramaian turis:

                Malioboro

                Kita mulai dari yang paling ikonik, Malioboro! Masuk dalam daftar rekomendasi, kawasan ini emang nggak pernah mati. Disebut sebagai salah satu destinasi utama, Malioboro selalu punya magnet tersendiri dengan suasana jalanannya yang khas, deretan toko, dan hiruk-pikuk wisatawan yang menikmati malam Jogja. Sayangnya, konten sumber tidak merinci jam operasional toko atau harga jajanan di sana.

                Tebing Breksi

                Megahnya ukiran di Tebing Breksi
                Megahnya ukiran di Tebing Breksi

                Selanjutnya ada Tebing Breksi. Tempat ini unik banget karena dulunya adalah bekas tambang yang disulap jadi karya seni raksasa. Dinding-dinding tebing kapurnya dipahat dengan relief artistik yang bikin siapa saja terpukau.

                HeHa Ocean View

                Spot foto dengan latar samudra di HeHa Ocean View
                Spot foto dengan latar samudra di HeHa Ocean View

                Geser ke destinasi selanjutnya, ada HeHa Ocean View yang lagi hits banget. Daya tarik utamanya jelas: pemandangan laut lepas yang dipadukan dengan spot-spot foto super kece. Tempat ini didesain buat kamu yang hobi ngonten atau sekadar menikmati angin laut dengan gaya.

                Puncak Segoro

                View laut lepas dari ketinggian Puncak Segoro
                View laut lepas dari ketinggian Puncak Segoro

                Di destinasi lain, ada Puncak Segoro. Bayangkan menikmati hamparan laut biru dari ketinggian tebing—itu dia nuansa yang ditawarkan tempat ini. Konsepnya sering dibilang mirip-mirip destinasi tepi laut di luar negeri.

                Obelix Sea View

                Suasana senja yang syahdu di Obelix Sea View

                Masih soal pemandangan laut, Obelix Sea View jadi opsi pilihan Anda. Tempat ini digadang-gadang sebagai spot asik buat nongkrong, terutama pas momen matahari terbenam alias sunset. Suasananya yang santai bikin betah berlama-lama.

                Air Terjun Sri Gethuk

                Kesegaran alami di Air Terjun Sri Gethu

                Buat yang pengen yang seger-seger, Air Terjun Sri Gethuk wajib jadi pilihan. Destinasi alam ini terkenal dengan aliran airnya yang membelah tebing bebatuan karst dan dikelilingi pepohonan hijau yang asri. Suasananya tenang dan damai banget.

                Pantai Glagah

                Ikon tetrapod pemecah ombak di Pantai Glagah
                Ikon tetrapod pemecah ombak di Pantai Glaga

                Pantai Glagah di Kulon Progo ini punya ciri khas yang beda, yaitu deretan pemecah ombak (tetrapod) yang menjorok ke laut. Masuk di urutan pantai ini juga punya laguna yang tenang. Pemandangan ombak yang pecah menghantam beton jadi atraksi visual tersendiri.

                Pantai Parangtritis

                Pantai Parangtritis
                Pantai Parangtritis

                Legenda wisata Jogja, Pantai Parangtritis, tetap eksis di daftar wajid kunjungan. Dikenal dengan garis pantainya yang super panjang dan pasir hitamnya yang eksotis, tempat ini juga identik dengan suasana mistis dan romantis sekaligus, apalagi saat senja.

                Pictniq Gunung Kidul

                Selanjutnya ada Pictniq Gunung Kidul. Dari namanya aja udah kebayang kan suasana piknik seru di area terbuka? Tempat ini disebut-sebut sebagai destinasi asik buat santai bareng teman.

                iBarbo Park

                Lanjut ke nomor lain ada iBarbo Park. Dengar namanya, mungkin terlintas konsep taman hiburan atau tempat rekreasi keluarga yang penuh warna. Destinasi ini direkomendasikan buat masuk bucket list kamu.

                Gesing Wonderland

                Di urutan selanjutnya ada Gesing Wonderland. Nama “Wonderland” seolah menjanjikan dunia keajaiban di tepi pantai Gesing. Tempat ini sepertinya menawarkan konsep wisata kekinian yang memadukan keindahan alam pantai dengan sentuhan modern.

                Drini Park

                Drini Park hadir di posisi list wajib. Berlokasi di kawasan pantai Drini yang terkenal, tempat ini kemungkinan besar menawarkan area rekreasi dengan bonus pemandangan laut selatan yang ciamik.

                Pantai Ngobaran

                Pantai Ngobaran yang punya julukan “Bali-nya Jogja”. Kenapa? Karena nuansa budaya dan keberadaan bangunan puranya yang kental banget. Eksotis dan beda dari pantai lainnya!

                Pantai Ngrenehan

                Tepat setelah Ngobaran, ada Pantai Ngrenehan. Pantai ini berupa teluk kecil yang terlindung bukit karang, jadi ombaknya cenderung lebih tenang. Biasanya sih identik dengan aktivitas nelayan dan perahu-perahu yang bersandar.

                Pasar Ngasem

                Buat yang suka suasana tradisional, Pasar Ngasem wajib dilirik. Pasar ini punya sejarah panjang dan atmosfer yang “Jogja banget”. Cocok buat kamu yang pengen ngerasain denyut kehidupan warga lokal.

                Pawon Mbah Gito

                Menutup daftar, ada Pawon Mbah Gito. Dari namanya, tempat ini memancarkan aura kuliner tradisional dengan suasana pedesaan yang hangat dan homy. Kayak makan di dapur nenek sendiri!

                Nah, itu dia rangkuman 16 tempat wisata Jogja yang diprediksi bakal makin hits di tahun 2025 menurut sumber video rekomendasi kita. Semua nama sudah kita spill satu per satu. Ingat ya, artikel ini cuma kulit luarnya aja. Kalau kamu pengen lihat visual aslinya biar makin yakin, langsung aja klik tautan-tautan yang udah disediain di atas.

                Selamat menyusun itinerary liburan kamu! Semoga persiapannya lancar walau info detail teknisnya harus kamu cari tahu lebih lanjut. Happy holiday!

                Yogyakarta, Destinasi Favorit Liburan Ramah Budget

                Yogyakarta kembali menjadi salah satu destinasi favorit wisatawan untuk menghabiskan liburan akhir tahun tanpa harus merogoh kocek terlalu dalam. Selain kaya akan budaya dan wisata, Jogja juga menawarkan banyak penginapan estetik dengan harga terjangkau, menjadikannya pilihan ideal untuk liburan santai.

                Tren Staycation yang Kian Digemari

                Belakangan ini, konsep staycation semakin diminati. Banyak wisatawan memilih beristirahat di penginapan yang nyaman sambil menikmati suasana kota. Dengan desain yang menarik dan fasilitas memadai, staycation di Jogja tetap terasa berkesan meski dengan anggaran terbatas.

                Penginapan Estetik dengan Harga Terjangkau

                Beragam penginapan di Yogyakarta menawarkan konsep unik, mulai dari gaya bohemian, tradisional Jawa modern, hingga nuansa tropis ala Bali. Harga per malamnya pun relatif ramah di kantong, rata-rata berada di kisaran Rp300 ribu hingga Rp600 ribu, tergantung tipe kamar dan fasilitas yang dipilih.

                Rekomendasi Penginapan untuk Staycation di Jogja

                Beberapa penginapan yang kerap menjadi favorit antara lain Por Aqui Stay & Dine dengan konsep boho Meksiko yang penuh warna, Omah Lumbung yang menghadirkan suasana Jawa klasik nan tenang, serta Villa La Luna yang menawarkan nuansa tropis dengan kolam privat. Ada pula Tigalima Homestay yang homey dan dekat pusat kota, serta The Cube Malioboro dengan kolam renang rooftop dan lokasi strategis.

                Liburan Nyaman Tanpa Boros

                Dengan banyaknya pilihan penginapan estetik dan terjangkau, staycation di Yogyakarta menjadi solusi liburan akhir tahun yang sederhana namun tetap menyenangkan. Wisatawan tetap bisa menikmati kenyamanan, suasana baru, dan pengalaman menginap yang unik tanpa harus menguras anggaran.

                Perlu dicatat, harga menginap dapat berubah sewaktu-waktu tergantung tipe kamar, waktu pemesanan, dan promo yang tersedia. Perencanaan yang tepat akan membuat liburan di Jogja semakin hemat dan berkesan.

                Baca / Sumber berita : ANTARA

                Serat larut merupakan salah satu nutrisi penting yang berperan besar dalam menjaga kesehatan pencernaan. Jenis serat ini bekerja dengan menyerap air dan membentuk zat menyerupai gel di dalam usus, sehingga membantu pergerakan usus menjadi lebih teratur. Kekurangan serat larut dapat memicu masalah seperti kembung, sembelit, hingga pencernaan yang terasa lambat.

                Dampak Positif Serat Larut bagi Kesehatan

                Dikutip dari Hindustan Times, serat larut tidak hanya mendukung kelancaran buang air besar, tetapi juga membantu menurunkan kadar kolesterol jahat dalam tubuh. Dengan pencernaan yang sehat, metabolisme tubuh pun dapat bekerja lebih optimal.

                Rekomendasi Makanan Kaya Serat Larut

                Konsultan Transplantasi Hati dan Ahli Bedah Gastrointestinal di Rumah Sakit Wockhardt, India, Swapnil Sharma, menyarankan beberapa makanan kaya serat larut untuk mendukung kesehatan usus. Di antaranya adalah oat, yang membantu melunakkan tinja, serta apel dengan kulitnya yang kaya pektin sebagai makanan bagi bakteri baik di usus.

                Pilihan Buah dan Biji untuk Pencernaan Sehat

                Buah jeruk menjadi pilihan ringan yang membantu hidrasi sekaligus menjaga pencernaan tetap aktif. Pir matang juga sangat bermanfaat karena mampu menyerap air ke dalam tinja, sehingga memudahkan buang air besar. Selain itu, biji rami yang direndam atau digiling serta kacang-kacangan dapat membantu melumasi usus dan menjaga konsistensi feses.

                Sayuran dan Umbi yang Mengenyangkan

                Wortel dan ubi jalar juga dianjurkan karena mengandung serat larut yang lembut bagi usus. Kedua bahan ini membantu pergerakan usus tanpa memberi rasa berat, sekaligus membuat tubuh lebih kenyang dan bertenaga.

                Cara Konsumsi dan Kebutuhan Harian Serat

                Dr. Swapnil menyarankan agar konsumsi makanan berserat dilakukan secara bertahap sepanjang hari, bukan sekaligus dalam jumlah besar. Selain itu, asupan air yang cukup sangat penting agar serat dapat bekerja secara efektif. Sebagai panduan, Institut Kesehatan Nasional AS menyebutkan bahwa wanita usia 19–50 tahun membutuhkan sekitar 25 gram serat per hari, sementara pria pada rentang usia yang sama memerlukan sekitar 38 gram.

                Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya, menilai industri musik hingga animasi di Yogyakarta sebagai aset ekonomi kreatif yang patut didukung dan dibanggakan secara nasional. Menurutnya, Yogyakarta memiliki keunggulan kuat dalam pendidikan, storytelling, hingga kemampuan monetisasi karya kreatif.

                Ia menegaskan bahwa Kementerian Ekonomi Kreatif siap mendorong proses komersialisasi bagi para pegiat ekonomi kreatif di Yogyakarta agar mampu bersaing dan memberi kontribusi nyata bagi perekonomian nasional.

                Yogyakarta sebagai Paket Lengkap Ekonomi Kreatif

                Dalam kunjungan saat libur Natal dan Tahun Baru, Menteri Ekraf melihat Yogyakarta sebagai daerah dengan paket lengkap ekonomi kreatif. Budaya, sejarah, kuliner, wisata belanja, hingga kearifan lokal berpadu menjadi daya tarik yang memperkuat ekosistem ekraf berbasis daerah.

                Momentum libur akhir tahun ini dimanfaatkan untuk meninjau langsung geliat subsektor unggulan dan bertemu para pelaku kreatif yang telah menembus pasar nasional hingga internasional.

                Dukungan untuk Musik Lokal dan Talenta Berkelanjutan

                Dalam kunjungannya, Menteri Riefky bertemu dengan musisi lokal Ndarboy Genk, yang sebelumnya telah berkolaborasi dalam Program Akselerasi Kreatif Musik Kementerian Ekraf. Dukungan diberikan mulai dari produksi video klip, penyelenggaraan konser luar negeri, hingga pemberdayaan talenta lokal secara berkelanjutan.

                Ndarboy Genk menyampaikan apresiasi atas dukungan Kementerian Ekraf yang membuka peluang kolaborasi lintas komunitas, termasuk seniman disabilitas, serta mendorong monetisasi karya musik agar berdampak langsung pada ekonomi kreatif.

                Animasi dan Film Dinilai Jadi Mesin Pertumbuhan Baru

                Menteri Ekraf juga meninjau MSV Pictures di Universitas AMIKOM Yogyakarta. Ia menyoroti peran penting subsektor film, animasi, dan video dalam menciptakan lapangan kerja berkualitas dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

                Menurutnya, tahun 2026 berpotensi menjadi momentum kebangkitan industri animasi Indonesia. Pemerintah pun tengah menyiapkan skema insentif bagi subsektor film, animasi, video, gim, dan aplikasi untuk menarik investasi baru.

                Kampus Jadi Pusat Penguatan Ekosistem Ekraf

                Keberhasilan Universitas AMIKOM Yogyakarta dinilai sebagai contoh kuat pengembangan ekonomi kreatif berbasis perguruan tinggi. Kampus tidak hanya mencetak lulusan profesional, tetapi juga wirausaha dan kreator yang mampu bersaing secara global.

                Rektor Universitas AMIKOM Yogyakarta, Muhammad Suyanto, menegaskan bahwa subsektor film, animasi, dan video terus didorong sebagai lokomotif ekonomi kreatif yang berdampak luas, sekaligus memperkuat posisi Indonesia di pasar global.

                Baca / Sumber berita : ANTARA

                Pengelola objek wisata edukasi Taman Pintar Yogyakarta mencatat jumlah kunjungan sekitar 720 ribu wisatawan sepanjang tahun 2025. Puncak kunjungan terjadi pada Desember 2025 dengan hampir 113 ribu pengunjung, seiring momentum libur Natal dan Tahun Baru.

                Kepala UPT Pengelolaan Taman Budaya Kota Yogyakarta, Karmila, menjelaskan bahwa periode akhir tahun memang selalu menjadi waktu paling ramai. Selain itu, kunjungan juga relatif tinggi pada Januari, libur Lebaran, serta masa libur kenaikan kelas.

                Dampak Kebijakan Pembatasan Karya Wisata

                Sepanjang 2025, kunjungan Taman Pintar turut dipengaruhi oleh kebijakan pembatasan kegiatan karya wisata dari sejumlah daerah. Kebijakan tersebut berdampak pada penurunan jumlah pengunjung dari beberapa wilayah, khususnya Jawa Barat yang mengalami penurunan sekitar 15 persen.

                Beberapa daerah di Jawa Timur juga menerapkan kebijakan serupa, sehingga jumlah rombongan wisata edukasi yang biasanya datang ke Yogyakarta ikut berkurang.

                Pariwisata Yogyakarta Tetap Menjadi Penopang

                Meski menghadapi berbagai sentimen eksternal, tren pariwisata di Kota Yogyakarta pada akhir 2025 dinilai tetap positif. Menurut Karmila, Yogyakarta masih menjadi salah satu tujuan utama wisata akhir tahun, sehingga mampu menjaga stabilitas jumlah kunjungan ke Taman Pintar.

                Ia berharap ke depan kebijakan pariwisata antar daerah dapat lebih tersinergi di tingkat nasional agar tidak menimbulkan dampak besar terhadap sektor pariwisata.

                Rencana Pengembangan Taman Pintar Tahun 2026

                Memasuki tahun 2026, pengelola Taman Pintar telah menyiapkan sejumlah rencana pengembangan. Setelah melakukan penambahan dan penyegaran wahana di Gedung Oval serta zona edukasi lainnya sepanjang 2025, fokus berikutnya diarahkan pada peremajaan fasilitas.

                Salah satu rencana besar yang disiapkan adalah perbaikan playground di sisi timur, dekat area air mancur menari, khususnya pada bagian lantai. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan kenyamanan dan keamanan pengunjung.

                Baca / Sumber berita : ANTARA