Ansor Istimewa BISA: Strategi GP Ansor DIY Bangun SDM Unggul di Era Digital

Peluncuran Program Ansor Istimewa BISA

Sleman – Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Ansor Daerah Istimewa Yogyakarta (PW GP Ansor DIY) resmi meluncurkan program bertajuk “Ansor Istimewa BISA” untuk membangun sumber daya manusia (SDM) unggul di era digital. Ketua PW GP Ansor DIY, Abdul Muiz, menjelaskan bahwa “BISA” merupakan akronim dari empat pilar utama: Bisnis, Inovasi, Sumber Daya Manusia, dan Anak Muda.

Empat Pilar Ansor Istimewa BISA

Keempat pilar ini menjadi landasan strategis yang mendorong organisasi bergerak lebih kolaboratif dan berorientasi masa depan. Menurut Abdul Muiz, Ansor kini tidak hanya memperkuat organisasi secara internal, tetapi juga hadir aktif menjawab tantangan-tantangan baru di tengah masyarakat.

Inovasi di Bidang Bisnis: Ansor Sports Center dan Nuso Farm

Di sektor bisnis, GP Ansor DIY memperkenalkan dua inisiatif unggulan: Ansor Sports Center, sebuah ruang komunitas yang memadukan olahraga, aktivitas ekonomi lokal, dan pemberdayaan kader; serta Nusantara Organik (Nuso Farm), sistem pertanian dan peternakan berbasis ekonomi sirkular untuk mendukung ketahanan pangan.

Pilar Inovasi: Ansor Peduli dan BANTUIN

Pada pilar inovasi, GP Ansor DIY meluncurkan Ansor Peduli, sistem kedaruratan berbasis kader muda NU yang pertama di Indonesia. Selain itu, mereka juga menghadirkan BANTUIN (Banser Ansor untuk Indonesia), platform layanan home service dan perawatan rumah tangga yang dikelola secara profesional untuk memenuhi kebutuhan masyarakat modern.

Meningkatkan Kapasitas Digital Melalui Pondok Digital Nusantara

Untuk memperkuat pilar Sumber Daya Manusia, GP Ansor DIY menghadirkan Pondok Digital Nusantara. Program ini membekali kader NU dengan keterampilan digital seperti coding, artificial intelligence (AI), desain grafis, hingga digital marketing, dengan tetap mengedepankan nilai-nilai keislaman dan kebangsaan.

Ansor Hub: Wadah Kreatif untuk Anak Muda

Pilar keempat, yaitu Anak Muda, diwujudkan melalui Ansor Hub — ruang ekspresi dan kolaborasi kreatif bagi generasi muda. Di sini, anak-anak muda diberi ruang untuk berkarya, berdialog, dan menciptakan solusi-solusi inovatif tanpa perlu menunggu momentum tertentu.

Ajak Seluruh Elemen Bangsa Berkolaborasi

Abdul Muiz menegaskan bahwa Ansor Istimewa BISA bukan sekadar program kerja, melainkan wujud nyata semangat baru Ansor untuk berkontribusi membangun bangsa. PW GP Ansor DIY pun mengajak semua pihak — pemerintah, sektor swasta, akademisi, hingga masyarakat sipil — untuk ikut berkolaborasi mewujudkan masa depan yang lebih baik bersama Ansor.

Baca selengkapnya di Antara

Yogyakarta – Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Suadi, menegaskan bahwa pengelolaan lobster di Indonesia hanya bisa berhasil jika melibatkan kolaborasi lintas sektor. Menurutnya, dukungan dari pemerintah pusat, daerah, akademisi, hingga masyarakat pesisir menjadi mutlak untuk menjaga keberlanjutan populasi lobster di alam.

Temuan dari Penelitian Terbaru

Pernyataan Prof. Suadi ini berlandaskan hasil penelitian yang dipublikasikan di jurnal Marine Policy (Quartil 1) pada Agustus 2024. Dalam penelitian tersebut, tim lintas disiplin melakukan analisis mendalam terkait dinamika kebijakan pengelolaan benih lobster atau puerulus, serta berbagai tantangan yang dihadapi dalam menjaga keberlanjutan lobster di Indonesia.

Potensi Besar, Namun Dihadang Masalah

Hasil penelitian menunjukkan bahwa Indonesia sebenarnya memiliki potensi besar untuk menjadi pusat budidaya lobster dunia. Namun, ketidakonsistenan kebijakan dan minimnya keterlibatan semua pihak justru memperparah kondisi ekosistem lobster. Tanpa sinergi, peluang besar itu malah berubah menjadi masalah yang semakin kompleks.

Dampak Pelarangan Ekspor Benih Lobster

Salah satu kebijakan yang dinilai kurang efektif adalah larangan ekspor benih lobster yang diberlakukan sejak 2015. Meskipun bertujuan melindungi populasi lobster dan mendukung budidaya lokal, pelarangan ini tidak diiringi dengan penguatan infrastruktur, teknologi, dan kapasitas kelembagaan yang memadai, sehingga tujuan awal kebijakan sulit tercapai.

Lonjakan Penyelundupan dan Kerugian Negara

Alih-alih memperbaiki keadaan, kebijakan pelarangan tersebut justru mendorong praktik penyelundupan benih lobster ke luar negeri. Penelitian Suadi menemukan bahwa kerugian negara akibat penyelundupan ini bisa mencapai lebih dari Rp1 triliun per tahun, memperlihatkan betapa seriusnya dampak dari kebijakan yang kurang komprehensif.

Akar Masalah: Lemahnya Pengawasan dan Celah Hukum

Penyelundupan ini, menurut penelitian, terjadi karena lemahnya pengawasan di lapangan, adanya celah dalam regulasi, serta jaringan perdagangan ilegal yang sudah terbentuk kuat sejak lama. Faktor-faktor ini membuka peluang besar bagi pelaku penyelundupan untuk terus beroperasi tanpa hambatan berarti.

Perlunya Pendekatan yang Inklusif

Prof. Suadi menekankan bahwa untuk memperbaiki situasi, pengelolaan lobster harus dilakukan dengan pendekatan inklusif, melibatkan semua pemangku kepentingan dari nelayan, pengepul, hingga pelaku industri ekspor. Kebijakan yang disusun pun harus berbasis data lapangan agar lebih membumi dan dapat mengatasi persoalan secara nyata.

Baca selengkapnya di Antara

Sleman – Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Kabupaten Sleman menggelar acara bedah buku berjudul “Guyub Rukun Ayem Tentrem: Keluarga Bahagia Dalam Masyarakat Jawa” di Desa Wisata Taman Sendang Bandung, Sumberagung, Moyudan, Sleman, Kamis lalu. Acara ini menjadi ajang penting untuk memperkenalkan nilai-nilai luhur kehidupan Jawa kepada masyarakat.

Menghidupkan Semangat Membaca di Masyarakat

Ketua Tim Pengelolaan Koleksi DPK Sleman, Wahyuningsih, menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk mengajak masyarakat lebih memahami falsafah guyub rukun dan ayem tentrem, khususnya dalam kehidupan keluarga. Ia berharap acara ini juga mampu menumbuhkan minat baca dan meningkatkan pemanfaatan layanan perpustakaan di Sleman.

Membahas Nilai-Nilai Luhur dalam Keluarga

Bedah buku ini dipandu oleh pustakawan DPK Sleman, Bagus Eko Nur Saputro, yang sekaligus menjadi moderator. Ia menjelaskan bahwa buku karya Cahyadi Takariawan ini mengangkat tema penting tentang penanaman nilai luhur dalam keluarga dan pembentukan karakter seluruh anggota keluarga agar harmonis dan kuat dalam menghadapi tantangan zaman.

Narasumber dari DPRD Sleman Turut Berbagi Wawasan

Acara ini menghadirkan narasumber istimewa, yakni Ketua Komisi B DPRD Sleman, Muh Zuhdan, serta sang penulis buku, Cahyadi Takariawan. Zuhdan menyoroti pentingnya ketahanan keluarga di tengah kondisi sosial saat ini, mengingat minat baca di Indonesia tergolong rendah berdasarkan standar global, meskipun IPM Sleman tercatat sebagai salah satu yang tertinggi di Indonesia.

Bahasa Buku yang Sederhana dan Mengena

Menurut Zuhdan, buku “Guyub Rukun Ayem Tentrem” disusun dengan bahasa sederhana, ringan, dan mudah dipahami. Penulis bersama istrinya, Ida Nur Laila, sengaja mengemas buku ini agar dapat dinikmati berbagai kalangan, sehingga nilai-nilai kebersamaan dan keharmonisan dalam keluarga lebih mudah ditanamkan sejak dini.

Mengupas Konsep Ketahanan Keluarga

Dalam prakata bukunya, Cahyadi membahas konsep ketahanan keluarga sebagai kondisi dinamis yang menghadapi berbagai tantangan dan gangguan. Ia menekankan dua aspek penting: ketahanan fisik, yang meliputi kebutuhan dasar seperti sandang, pangan, dan papan; serta ketahanan sosial, yang berhubungan dengan hubungan antaranggota keluarga dan peran mereka di masyarakat.

Membumikan Falsafah Jawa di Era Modern

Melalui bedah buku ini, DPK Sleman berharap nilai-nilai guyub rukun dan ayem tentrem dapat terus dibumikan di tengah kehidupan modern yang serba cepat. Acara ini juga menjadi langkah konkret untuk membangun ketahanan keluarga sebagai fondasi penting dalam menciptakan masyarakat yang harmonis dan sejahtera.

Baca selengkapnya di Antara

Kalau bicara soal makanan khas Jawa, terutama dari Jawa Tengah dan Yogyakarta, pasti yang terlintas di benak banyak orang adalah rasa manisnya yang khas. Tak hanya pada lauk-pauk, bahkan sambal dan sayur tumis pun sering kali terasa manis. Tapi, tahukah kamu kenapa masakan dari Solo dan Jogja punya karakter rasa seperti ini?

Filosofi Kehidupan dalam Rasa Manis

Menurut Prof. Bani Sudardi dari Universitas Sebelas Maret Surakarta, budaya keraton di Solo dan Yogyakarta sangat berpengaruh terhadap rasa manis dalam kuliner Jawa. Di lingkungan keraton, rasa manis dianggap sebagai simbol kenikmatan, keharmonisan, dan kebahagiaan. Tak heran kalau dalam setiap upacara adat, makanan manis selalu jadi sajian utama untuk melambangkan berkah dan kerukunan.

Alam Jawa dan Melimpahnya Gula Kelapa

Selain faktor budaya, kondisi alam Jawa juga turut berperan besar. Tanahnya yang subur, terutama di pesisir, mendukung tumbuhnya pohon kelapa. Dari nira kelapa, masyarakat mengolah gula merah atau gula Jawa, yang kemudian banyak digunakan dalam berbagai masakan dan jajanan tradisional. Inilah kenapa rasa manis begitu dominan, bahkan sampai warna keemasan khas masakan Solo dan Jogja berasal dari gula kelapa ini.

Jejak Sejarah Tanam Paksa dan Industri Gula

Sejarah kolonial juga tak bisa dilepaskan dari perkembangan rasa manis ini. Pada abad ke-19, Belanda menerapkan sistem tanam paksa di Jawa, salah satunya untuk tebu. Jawa pun menjadi pusat produksi gula dunia, dan masyarakat kian akrab dengan olahan gula, tidak hanya untuk ekspor, tapi juga untuk konsumsi harian. Tradisi ini terus berlanjut hingga kini, mewarnai rasa masakan Jawa yang manis.

Makna Filosofis dalam Setiap Sajian

Bagi masyarakat Jawa, rasa manis lebih dari sekadar kenikmatan lidah. Ia menjadi lambang kasih sayang, keindahan, dan harapan akan masa depan yang cerah. Hidangan manis kerap hadir dalam momen-momen sakral seperti pernikahan dan upacara adat, menjadi doa dalam bentuk rasa. Dalam kesusastraan Jawa, manisnya hidup bahkan sering dijadikan metafora tentang harmoni dan cinta.

Kuliner Manis Khas Jawa yang Populer

Beberapa hidangan manis yang terkenal antara lain Gudeg Jogja, olahan nangka muda berpadu santan dan gula Jawa yang legit. Ada juga Selat Solo, hidangan daging berkuah manis yang terinspirasi dari Eropa, serta Gethuk Goreng dari Banyumas, jajanan berbahan singkong dan gula Jawa yang rasanya manis legit. Setiap gigitan seakan membawa cerita panjang tentang budaya dan sejarah Jawa.

Rasa Manis, Warisan Budaya yang Tetap Hidup

Rasa manis dalam makanan Jawa bukan sekadar soal resep dapur, tapi cerminan perjalanan panjang: dari filosofi hidup, pengaruh kerajaan, hingga dampak kolonialisme. Di tengah dunia yang terus berubah, setiap sajian manis dari Solo dan Jogja menjadi pengingat bahwa budaya bisa bertahan dalam rasa, dalam tradisi, dan dalam setiap hidangan sederhana yang kita nikmati hari ini.

Baca selengkapnya di Antara

Yogyakarta – Pemerintah Kota Yogyakarta tengah mempertimbangkan penggunaan popok khusus untuk kuda penarik andong yang beroperasi di kawasan Malioboro. Wacana ini muncul sebagai respons atas keluhan wisatawan terkait bau pesing yang tercium selama libur Lebaran 2025.

Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, mengatakan bahwa ia telah mengecek langsung sumber bau tak sedap tersebut. Hasilnya, bau tersebut bukan berasal dari buang air sembarangan oleh manusia, melainkan dari air kencing kuda andong.

“Tadi saya cek sendiri. Bukan dari manusia, ternyata dari kencing kuda,” ujar Hasto saat ditemui di Yogyakarta, Rabu.

Ia pun langsung menginstruksikan Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kawasan Cagar Budaya Yogyakarta bersama dinas terkait untuk mencari solusi. Salah satu yang tengah dikaji adalah kemungkinan penggunaan popok khusus untuk kuda.

“Saya sudah sampaikan ke dinas dan UPT Malioboro, ini soal ‘pampers’ kuda perlu ditata lagi. Ternyata ini hal penting untuk kenyamanan Malioboro,” katanya.

Menurut Hasto, selama ini kuda andong memang sudah dilengkapi wadah untuk menampung kotoran. Namun, wadah tersebut tidak efektif menampung air kencing sehingga seringkali meluber ke jalan dan menimbulkan bau tak sedap.

“Itu kan wadahnya cuma buat kotoran padat, tidak bisa menampung air kencing. Jadinya bercampur dan tercecer. Ya, jelas saja jadi pesing,” tuturnya.

Sebagai langkah tambahan, Hasto juga menyarankan pendataan ulang jumlah kuda jantan dan betina yang beroperasi. Ia menilai, kuda betina lebih mudah dikendalikan dalam hal buang air, sehingga bisa membantu mengurangi masalah serupa.

Baca selengkapnya di Antara

Yogyakarta – Tim Nasional Futsal Putri Indonesia resmi memulai pemusatan latihan (TC) di Yogyakarta sebagai bagian dari persiapan menuju putaran final AFC Women’s Futsal Asian Cup 2025 yang akan digelar di Tiongkok. TC ini akan berlangsung selama satu bulan penuh, dimulai sejak 7 April 2025.

Pelatih kepala Timnas Futsal Putri, Luis Estrella, menyampaikan keyakinannya bahwa Garuda Pertiwi Futsal mampu bersaing dan meraih hasil terbaik di ajang tersebut. 

“Kami menjalani persiapan yang intensif, menyeluruh, dan terstruktur. Dengan komitmen dan kerja keras, saya yakin tim ini bisa tampil maksimal di putaran final nanti,” ujar Luis.

Selama TC berlangsung, para pemain akan difokuskan pada strategi permainan, peningkatan kondisi fisik, serta penguatan aspek teknikal dan taktik. 

Tak hanya berlatih di dalam negeri, Timnas Futsal Putri juga akan menjalani beberapa laga uji coba internasional menghadapi tim-tim peserta lain yang akan tampil di AFC Women’s Futsal Asian Cup.

Kapten Timnas Futsal Putri, Novita Murni, mengungkapkan semangat dan kesiapan tim menjalani TC. “Alhamdulillah, seluruh pemain dalam kondisi prima dan sangat fokus menjalani latihan. Kami mengikuti arahan tim pelatih dengan semangat tinggi karena semua ingin membawa pulang hasil terbaik untuk Indonesia,” ujar Novita.

Dengan semangat yang tinggi, dukungan penuh dari federasi, serta program persiapan yang matang, Timnas Futsal Putri optimistis menatap tantangan besar di AFC Women’s Futsal Asian Cup 2025.

Baca selengkapnya di Antara

Yogyakarta – Untuk menjaga kenyamanan para wisatawan selama libur Lebaran 2025, Pemerintah Kota Yogyakarta memastikan bahwa upaya penanganan bau tak sedap di kawasan Malioboro terus dilakukan secara rutin. Salah satunya adalah dengan menyemprotkan air dan parfum di titik-titik tertentu yang rawan bau pesing.

Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kawasan Cagar Budaya Yogyakarta, Ekwanto, menyampaikan bahwa penyemprotan ini sudah menjadi agenda tetap dan dilakukan dua kali dalam sepekan.

“Minimal dua kali seminggu kami lakukan penyemprotan. Kalau tidak begitu, baunya bisa sangat menyengat,” ujar Ekwanto saat dihubungi di Yogyakarta, Selasa.

Ekwanto mengakui, selama masa liburan kemarin memang ada sejumlah keluhan dari wisatawan mengenai aroma kurang sedap, terutama di area pedestrian dekat Ramai Mal hingga sekitar Hotel Mutiara.

Menurutnya, penyebab bau tersebut bisa berasal dari air kencing kuda penarik andong, namun tidak menutup kemungkinan juga berasal dari aktivitas warga, termasuk orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) yang buang air kecil sembarangan.

“Kalau baunya dari area ‘coakan’ tempat andong parkir, kemungkinan besar memang dari kuda. Tapi kami sudah punya SOP, setelah kuda buang air, langsung disiram dan bahkan kami anjurkan untuk disemprot parfum,” jelasnya.

Meski begitu, Ekwanto juga menyebut bahwa ada kemungkinan bau tersebut bukan hanya dari hewan, tetapi juga dari manusia yang buang air sembarangan tanpa sepengetahuan petugas.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa para kusir andong telah dibekali standar operasional prosedur yang cukup ketat. Selain diwajibkan mengenakan pakaian sorjan sebagai seragam, mereka juga bertanggung jawab atas kebersihan kuda dan kotorannya selama beroperasi.

“Kalau ada yang melanggar, sanksinya cukup berat. Mereka bisa dilarang masuk kawasan Malioboro. Itu bukan dari kami, tapi hasil kesepakatan antar kusir sendiri. Bahkan bisa dilarang selamanya,” ungkapnya.

Baca selengkapnya di Antara

Yogyakarta – Selama masa angkutan Lebaran 2025 yang dimulai sejak 24 Maret hingga 6 April, Dinas Perhubungan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mencatat lebih dari 2,3 juta kendaraan bermotor masuk ke wilayah DIY.

“Totalnya, sejak awal masa angkutan Lebaran hingga H+5 kemarin, ada sekitar 2.363.557 kendaraan yang masuk ke DIY, sementara yang keluar tercatat sebanyak 2.315.164 kendaraan,” ujar Kepala Bidang Pengendalian Operasional Dishub DIY, Sumariyoto, saat dikonfirmasi di Yogyakarta, Senin.

Puncak arus balik terjadi pada Minggu, 6 April 2025 (H+5 Lebaran), di mana masih tercatat 195.665 kendaraan memasuki wilayah DIY. Jumlah ini terdiri atas:

Sedangkan jumlah kendaraan yang keluar dari DIY pada hari yang sama mencapai 180.887 unit, dengan mobil pribadi menjadi jenis kendaraan yang paling banyak meninggalkan provinsi ini.

Untuk memantau pergerakan kendaraan selama periode mudik dan balik, Dishub DIY mengandalkan lima titik pantau utama, yakni:

Pada puncak arus balik 6 April, Prambanan menjadi jalur paling sibuk dengan volume kendaraan masuk mencapai 68.099 unit, disusul Tempel (58.786), Piyungan (36.945), dan Wates (31.837).

Tak hanya kendaraan pribadi, Dishub DIY juga mencatat lonjakan penumpang angkutan umum selama masa Lebaran. Secara total, 427.535 penumpang tercatat masuk ke Yogyakarta, sementara 414.985 penumpang tercatat berangkat.

Baca selengkapnya di Antara