Takdir Para Raja: Sejarah Yogyakarta dan Pakualaman
- Yogyakarta, Pakualaman, dan Garis Takdir
- Giyanti 1755: Lahirnya Dua Istana
- Makna Kata ‘Yogya’
- Fase Awal: Gejolak Keluarga dan Istana
- Gelombang Perubahan: Dari Pakepung hingga Inggris
- Lahirnya Pakualaman: Entitas Keempat
- Pusaran Konflik: Perang Diponegoro
- Suryomentaram: Sang Filsuf Istana
- Menuju Era Modern
- Masa Muda HB IX dan Jalan Menuju Tahta
- Detik-Detik Kemerdekaan
- Benteng Republik: 1945–1949
- Transisi: Dari HB IX ke HB X
- Tradisi yang Bernafas di Masa Depan
Yogyakarta, Pakualaman, dan Garis Takdir
Jika kita berbicara tentang Yogyakarta, rasanya tidak mungkin lepas dari nuansa sejarah yang kental dan magis. Dari jalanan Malioboro yang riuh hingga sudut-sudut Keraton yang hening, tersimpan cerita panjang tentang kekuasaan, pengorbanan, dan takdir yang membelah tanah Jawa. Kisah ini bukan sekadar tentang siapa yang duduk di singgasana, melainkan bagaimana sebuah dinasti Mataram harus menempuh jalan berliku—terpecah, bertahan, dan akhirnya menyatu dengan republik.

Artikel ini akan mengajak Anda menelusuri lorong waktu, tentang sejarah Yogyakarta dan Pakualaman, mulai dari momen krusial di Giyanti yang memisahkan kakak-beradik, hingga era modern di mana tradisi bersalaman dengan demokrasi. Sebuah perjalanan komprehensif untuk memahami bagaimana Yogyakarta dan Pakualaman menjadi entitas istimewa yang kita kenal hari ini.
Giyanti 1755: Lahirnya Dua Istana
Segala sesuatunya bermula pada tanggal 13 Februari 1755. Di sebuah tempat bernama Giyanti, takdir Mataram Islam berubah selamanya. Disaksikan oleh VOC, dua tokoh besar—Pangeran Mangkubumi dan Raden Mas Suryadi (Pakubuwono III)—sepakat untuk membagi wilayah kekuasaan mereka.
Kasunanan Surakarta tetap dipimpin oleh Pakubuwono III yang saat itu masih muda, berusia 23 tahun. Sementara itu, Pangeran Mangkubumi yang lebih senior (38 tahun) mendapatkan wilayah baru yang kelak dikenal sebagai Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, bergelar Sultan Hamengkubuwono I.
Makna Kata ‘Yogya’
Diceritakan dalam narasi sejarah bahwa nama “Yogya” memiliki makna “baik”, “pas”, atau “pantas”. Mirip dengan frasa “seyogyanya” (sebaiknya). Jadi, Yogyakarta bisa diartikan sebagai tempat yang baik dan makmur, atau pantas untuk menjadi makmur (Karto).
Sultan HB I kemudian memilih hutan di kawasan Pesanggrahan Garjitawati—sebuah tempat peristirahatan pengiring jenazah ke Imogiri—sebagai lokasi istananya. Pada tanggal 13 Maret 1755, proklamasi berdirinya Yogyakarta atau Hadeging Nagari Ngayogyakarta dikumandangkan. Lokasi ini kelak tidak hanya menjadi keraton, tetapi juga mencakup kompleks Taman Sari yang ikonik.
Fase Awal: Gejolak Keluarga dan Istana
Membangun negara baru bukanlah perkara mudah. Sebelum Keraton selesai dibangun, Sultan HB I dan keluarganya harus tinggal sementara di Pesanggrahan Ambarketawang, Gamping, Sleman. Di masa-masa awal ini, HB I didampingi oleh dua permaisuri utama, Gusti Kanjeng Ratu Kencana dan Gusti Kanjeng Ratu Kadipaten.
Namun, suasana damai itu terusik. Raden Mas Said, keponakan HB I yang berjuluk Pangeran Sambernyawa, merasa dikhianati karena tidak dilibatkan dalam Perjanjian Giyanti. Ia mengamuk, bahkan sempat menyerang dan merusak bangunan Keraton Yogyakarta yang baru setengah jadi.
Konflik ini baru mereda lewat Perjanjian Salatiga (1757), yang memecah lagi sebagian wilayah Surakarta untuk RM Said, melahirkan entitas ketiga: Mangkunegaran.
Gelombang Perubahan: Dari Pakepung hingga Inggris
1790 : Peristiwa Pakepung
Surakarta dikepung oleh gabungan kekuatan Yogya, Mangkunegaran, dan VOC karena PB IV dianggap membahayakan dengan sikap anti-Belandanya. PB IV akhirnya menyerah.
1792 : Wafatnya HB I
Pendiri Yogyakarta, Sultan Hamengkubuwono I, wafat pada usia 74 tahun. Tahta diteruskan oleh putranya, Sultan HB II, yang sangat membenci VOC.
1800 : Bubarnya VOC
VOC resmi bangkrut dan dibubarkan. Kekuasaan beralih ke Pemerintah Belanda (saat itu Republik Bataaf/Prancis), memunculkan tokoh keras seperti Daendels.
1811 : Invasi Inggris
Inggris di bawah Raffles merebut Jawa. HB II yang sempat turun tahta kembali naik, namun sikap kerasnya membuat Inggris menyerang Yogyakarta dalam peristiwa Geger Sapehi.
Lahirnya Pakualaman: Entitas Keempat

Kekalahan HB II dalam Geger Sapehi (1812) membawa konsekuensi besar. Inggris tidak hanya menjarah harta karun keraton, tetapi juga memecah kekuasaan Yogyakarta. Sebagai hadiah atas “jasanya” membantu Inggris (atau lebih tepatnya karena terpaksa menjadi mata-mata), Pangeran Natakusuma—adik HB II—diangkat menjadi Paku Alam I pada tahun 1813.

Inilah momen lahirnya Kadipaten Pakualaman, entitas mandiri di dalam wilayah Yogyakarta. Dengan demikian, Dinasti Mataram resmi terbagi menjadi empat: Kasunanan, Kasultanan, Mangkunegaran, dan Pakualaman. Tak lama setelah gejolak ini, Sultan HB III wafat pada 1814, meninggalkan tahta kepada putra belianya.
Pusaran Konflik: Perang Diponegoro
Memasuki abad ke-19, tanah Jawa membara. Belanda kembali berkuasa setelah Inggris pergi, dan Kerajaan Belanda modern di bawah Raja Willem I mulai menancapkan kuku kolonialismenya. Di Yogyakarta, kematian mendadak HB IV (1823) dan wafatnya HB II (1828) serta Paku Alam I memperkeruh suasana.
Ketidakadilan, pajak tinggi, dan campur tangan Belanda memicu kemarahan Pangeran Diponegoro. Perang Jawa (1825-1830) pun pecah. Ini adalah perang yang sangat melelahkan bagi kedua belah pihak.
Perang berakhir dengan tipu muslihat. Pangeran Diponegoro ditangkap saat perundingan di Magelang. Imbasnya tidak hanya dirasakan Yogya; Pakubuwono VI dari Surakarta yang diam-diam mendukung Diponegoro pun ditangkap dan diasingkan ke Ambon. Untuk memecah belah persatuan mental rakyat Jawa, Belanda kemudian menggunakan propaganda budaya, salah satunya lewat Serat Darmogandhul yang isinya mendiskreditkan Islam dan para Wali.
Suryomentaram: Sang Filsuf Istana

Di tengah kemewahan keraton era “Sultan Sugih”, lahirlah seorang pangeran yang memilih jalan sunyi. Ki Ageng Suryomentaram, putra HB VII, menolak hidup di dalam benteng istana. Ia memilih keluar, berbaur dengan rakyat jelata, dan menggali makna kebahagiaan sejati.
Ajarannya tentang Kawruh Jiwa (ilmu jiwa) menjadi warisan intelektual yang sangat berharga bagi masyarakat Jawa modern, mengajarkan cara mengelola rasa dan ego tanpa terikat materi.
Menuju Era Modern
Kekayaan Yogyakarta dari industri gula tidak hanya dinikmati sendiri, tetapi juga menjadi bahan bakar pergerakan nasional.
1908
Berdirinya Boedi Oetomo, didukung fasilitas Keraton (Loji Mataram).
1912
Kyai Ahmad Dahlan, abdi dalem keraton, mendirikan Muhammadiyah.
1921
Naik tahtanya HB VIII, yang sangat peduli pada pendidikan putra-putrinya.
Masa Muda HB IX dan Jalan Menuju Tahta

Salah satu putra HB VIII, RM Dorojatun, dikirim sekolah ke Belanda sejak kecil. Dididik dalam keluarga Mulder, ia tumbuh menjadi pemuda yang mandiri, “Barat” dalam pikiran namun tetap Jawa dalam jiwa.
Panggilan pulang datang saat Perang Dunia II mulai membayangi Eropa (1939). Sang ayah menjemputnya di Batavia dan menyerahkan Keris Kyai Jaka Piturun—tanda suksesi. Tak lama kemudian, HB VIII wafat. RM Dorojatun naik tahta sebagai Sultan Hamengkubuwono IX pada 1940, di tengah desakan Belanda untuk menandatangani kontrak politik baru. Dengan visi tajam, ia menandatanganinya karena yakin: “Belanda akan segera pergi.”
Detik-Detik Kemerdekaan

Ramalan HB IX terbukti. Jepang datang (1942), Belanda menyerah. Di masa sulit ini, HB IX menyelamatkan rakyatnya dari Romusha dengan proyek irigasi “Selokan Mataram”.
Menjelang proklamasi, Pakubuwono X wafat. Ketika Soekarno—yang silsilahnya juga terhubung dengan keluarga kerajaan—memproklamasikan kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945, Yogyakarta dan Pakualaman bergerak cepat.
Pada 5 September 1945, HB IX dan Paku Alam VIII mengeluarkan amanat bersejarah: Keraton Yogyakarta dan Kadipaten Pakualaman bergabung sepenuhnya ke dalam Republik Indonesia.
Benteng Republik: 1945–1949
Yogyakarta bukan sekadar daerah, tapi nyawa bagi Republik muda ini.
1946 : Ibukota Pindah
Jakarta tidak aman. Atas undangan Sultan, ibukota RI pindah ke Yogyakarta. Sultan membiayai operasional pemerintahan dengan kas keraton.
1948: Agresi Militer II
Belanda menyerang Yogya (Operasi Gagak). Soekarno-Hatta ditangkap. Sultan mundur dari jabatan Gubernur sebagai protes dan menolak bekerja sama dengan Belanda.
1949: Serangan Umum 1 Maret
Inisiatif Sultan dan Jenderal Sudirman (dilaksanakan Letkol Soeharto) untuk membuktikan TNI masih ada. Serangan 6 jam yang membuka mata dunia.
1949: Kedaulatan Kembali
Pasca Roem-Royen, ibukota kembali ke Yogya, lalu pemerintahan diserahkan kembali ke Jakarta setelah pengakuan kedaulatan (RIS).
Transisi: Dari HB IX ke HB X

Setelah perang usai, HB IX terus mengabdi sebagai menteri di berbagai kabinet hingga menjadi Wakil Presiden RI (1973-1978). Ia wafat pada 1988 di Amerika Serikat, meninggalkan duka mendalam bagi rakyatnya.
Tahta kemudian diteruskan oleh putranya, BRM Herjuno Darpito, yang bergelar Sultan Hamengkubuwono X (naik tahta 1989). HB X membawa tradisi baru: ia menjadi raja pertama yang tidak berpoligami. Selain sebagai Sultan, ia juga menjabat sebagai Gubernur DIY, melanjutkan status istimewa yang diwariskan sang ayah.
Tradisi yang Bernafas di Masa Depan

Dari Giyanti hingga hari ini, sejarah Yogyakarta dan Pakualaman adalah bukti ketahanan budaya. Di tengah gempuran zaman, Keraton tidak menjadi fosil, melainkan tetap hidup sebagai jantung masyarakatnya. Sultan bukan hanya simbol, tapi pemimpin nyata dalam struktur republik. Di bawah langit senja Tugu yang tak pernah berubah, Yogyakarta mengajarkan kita bahwa takdir bangsa ini dirajut dari benang-benang sejarah yang tak boleh putus.