Tour de Merapi 2025: Eksplor Wisata Sleman Sambil Touring Seru
Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman kembali menggelar kegiatan seru yang sudah jadi agenda tahunan, Tour de Merapi (TdM). Tahun 2025 ini menjadi gelaran ke-21 dengan tema “Dolan Sleman Marai Tuman”. Acara ini akan membawa peserta touring sejauh 100 kilometer melintasi berbagai destinasi wisata unggulan di Sleman. Start dimulai dari Lapangan Pemda Sleman dan berakhir di Bukit Klangon, lereng Merapi, Glagaharjo, Cangkringan.
Tujuan Utama: Promosi Wisata dan Edukasi Berkendara Aman
Tour de Merapi 2025 bukan sekadar touring biasa. Kegiatan ini bertujuan untuk memperkenalkan lebih dalam potensi wisata Sleman dan juga menyosialisasikan pentingnya keselamatan berkendara. Dengan target 500 peserta, panitia menetapkan syarat sepeda motor yang boleh ikut adalah dengan kapasitas mesin 125cc hingga 250cc dan dalam kondisi prima, karena rute yang dilewati cukup menantang.
Kolaborasi Lintas Instansi untuk Kenyamanan Peserta
Kegiatan ini didukung oleh berbagai pihak, seperti Dinas Perhubungan Sleman, Satpol PP, Polresta Sleman, hingga Polisi Pariwisata. Selain itu, beberapa komunitas lokal seperti Saka Pariwisata, Ikatan Dimas Diajeng Sleman, Forum Komunikasi Desa Wisata, serta PMI juga turut ambil bagian untuk memastikan kelancaran dan keamanan jalannya acara.
Fasilitas & Hadiah Menarik untuk Para Peserta
Peserta TdM 2025 akan mendapat berbagai fasilitas menarik, seperti asuransi pengendara dan pembonceng, kupon makan, door prize, jaket, hingga produk sponsor. Hadiah utama yang disiapkan pun cukup menggoda, mulai dari dua unit motor Honda Beat, kulkas, mesin cuci, TV LED, laptop, hingga sepeda gunung dan perangkat rumah tangga lainnya.
Cara Daftar Tour de Merapi 2025 dan Biayanya
Pendaftaran dibuka mulai 23 Juni 2025 pukul 08.00 WIB di Kantor Dinas Pariwisata Sleman, Jalan KRT Pringgodiningrat No.13, Tridadi, Sleman. Calon peserta diwajibkan membawa fotokopi KTP/SIM, STNK motor, dan membayar biaya pendaftaran. Untuk 300 peserta pertama, biaya sebesar Rp230.000. Setelahnya, pendaftaran dikenakan Rp250.000. Jangan sampai ketinggalan kesempatan menjelajahi Sleman dengan cara yang menyenangkan dan penuh pengalaman seru!
Baca / Sumber berita : ANTARA
PT Kereta Api Indonesia (KAI) bekerja sama dengan Visinema menghadirkan Balon Jumbo Dolan Jogja setinggi 10 meter di halaman depan Stasiun Yogyakarta. Instalasi ini hadir sejak 18 hingga 30 Juni 2025 sebagai bentuk sambutan kepada para penumpang kereta api dan wisatawan yang datang ke Yogyakarta, terutama melalui jalur Malioboro yang ikonik. Balon karakter “Don” ini tidak hanya menjadi daya tarik visual, tetapi juga simbol keramahan dan semangat baru dari KAI.
Waktu Kunjungan dan Konsep Pengalaman Humanis dari KAI
Balon raksasa ini bisa dinikmati dalam dua sesi setiap harinya, yaitu pukul 06.00–13.00 WIB dan 15.00–23.00 WIB. Menurut Vice President Public Relations KAI, Anne Purba, inisiatif ini adalah bagian dari upaya perusahaan untuk menciptakan kesan pertama yang menyenangkan bagi para pengguna jasa. “Kami ingin pelanggan merasa disambut secara hangat sejak tiba di stasiun,” ujar Anne. Konsep ini sejalan dengan semangat KAI untuk membuat pengalaman perjalanan menjadi lebih humanis dan dekat.
Lonjakan Jumlah Penumpang di Yogyakarta
Stasiun Yogyakarta terus menunjukkan pertumbuhan jumlah penumpang. Sepanjang 2024, KAI mencatat 2,95 juta penumpang naik dan 2,9 juta penumpang turun—masing-masing meningkat sekitar 13 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Tren ini berlanjut di awal 2025, dengan data Januari–Mei menunjukkan 1,16 juta penumpang naik dan 1,14 juta penumpang turun. Ini memperkuat posisi Yogyakarta sebagai salah satu destinasi paling favorit, terutama saat libur sekolah.
Peningkatan Layanan KA Perkotaan dan Bandara
Tak hanya KA Jarak Jauh, Stasiun Yogyakarta juga melayani rute perkotaan yang terus berkembang. Layanan Commuter Line Yogyakarta mencatat peningkatan dari 727 ribu pengguna di awal 2024 menjadi 780 ribu pada periode yang sama di 2025. KA Prameks pun mengalami pertumbuhan, dari 179 ribu menjadi 207 ribu penumpang. Sementara itu, akses ke Bandara YIA kini makin mudah lewat KA Bandara, yang telah melayani hampir 2,7 juta orang sepanjang 2024 dan 888 ribu penumpang hanya dalam empat bulan pertama tahun 2025.
KAI Hadirkan Pengalaman Perjalanan yang Berkesan
Inisiatif seperti Balon Jumbo Dolan Jogja adalah bagian dari komitmen KAI untuk menghadirkan suasana perjalanan yang menyenangkan sejak awal. Bagi KAI, perjalanan tidak hanya soal sampai tujuan, tetapi juga tentang menciptakan momen-momen kecil yang berarti bagi pelanggan. “Kami percaya bahwa perjalanan terbaik dimulai dari suasana yang baik,” tutup Anne. Dengan sentuhan visual yang menarik dan pelayanan maksimal, KAI berharap bisa terus menjadi bagian dari pengalaman liburan yang tak terlupakan di Yogyakarta.
Baca / Sumber berita : ANTARA
Kalurahan Wukirsari di Imogiri, Bantul, resmi ditetapkan sebagai Kawasan Berbasis Kekayaan Intelektual 2025 oleh Kementerian Hukum dan HAM RI. Penetapan ini masuk dalam kategori Kawasan Karya Cipta, mengingat potensi budaya dan ekonomi lokal yang luar biasa. Wukirsari dikenal sebagai desa dengan tradisi karya cipta yang kuat, seperti batik tulis dan seni tatah sungging wayang kulit yang sudah diwariskan turun-temurun.
Warisan Budaya yang Diakui hingga Dunia
Bupati Bantul Abdul Halim Muslih menyampaikan bahwa Wukirsari merupakan salah satu dari dua wilayah di DIY yang mendapat penghargaan ini, bersama Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Ia menyebut bahwa tradisi budaya di Bantul sangat kaya, bukan hanya di Wukirsari. Karya cipta seperti batik tulis dan seni tatah sungging bahkan telah menjadi bagian dari warisan budaya tak benda Indonesia yang diakui oleh UNESCO.
Batik Tradisional, Identitas Tiga Padukuhan
Lurah Wukirsari, Susilo Hapsoro, menyebutkan bahwa budaya membatik telah berakar sejak masa Sultan Agung, terutama di tiga padukuhan: Cengkehan, Giriloyo, dan Karangkulon. Hingga kini, tercatat ada 643 pembatik aktif yang masih melestarikan teknik dan nilai-nilai membatik klasik. Ini menjadi bukti nyata bahwa budaya lokal terus hidup dan berkembang di tengah masyarakat.
Dukungan Pemerintah untuk Pelestarian Budaya
Bupati Halim berharap penghargaan ini dapat menjadi motivasi tambahan bagi masyarakat untuk terus menjaga dan mengembangkan tradisi budaya mereka. Menurutnya, pelestarian budaya bukan sekadar kewajiban masa lalu, tetapi juga investasi untuk masa depan. Ia ingin masyarakat semakin percaya diri dan terdorong untuk terus berkarya.
Langkah Menuju Pengembangan Ekonomi Kreatif Lokal
Penetapan ini juga menjadi peluang bagi Wukirsari untuk memperluas jangkauan karya cipta ke ranah ekonomi kreatif. Dengan dukungan kebijakan dan pengakuan resmi, diharapkan pelaku budaya lokal bisa lebih berkembang, tak hanya menjaga tradisi, tapi juga menghidupkannya sebagai potensi ekonomi yang berkelanjutan.
Baca / Sumber berita : ANTARA
Pecatur muda asal Sleman, Yogyakarta, Shafira Devi Harfesa, berhasil mencuri perhatian setelah memastikan tiket ke Piala Dunia Catur 2025. Ia meraih prestasi gemilang dengan menjuarai Asian Zone 3.3 Chess Championship 2025 yang berlangsung di Ulaanbaatar, Mongolia, pada 22 April hingga 3 Mei 2025.
Mengalahkan Wakil Asia Tenggara dan Asia Timur
Meski bukan unggulan, Shafira tampil luar biasa. Di usia 16 tahun, ia berhasil menumbangkan lawan-lawan tangguh dari Hong Kong, Malaysia, Filipina, Singapura, Vietnam, hingga Mongolia. Ia mengaku pertandingan paling menegangkan adalah di babak terakhir, karena kemenangan di momen itulah yang menentukan langkahnya menuju Piala Dunia.
Bangga atas Pencapaian Diri Sendiri
“Senang dan bangga sama diri sendiri,” ucap Shafira saat diwawancarai di Jakarta. Ia juga menyebut bahwa perjuangan di turnamen ini merupakan salah satu pengalaman paling emosional dalam karier caturnya sejauh ini. Shafira merupakan salah satu binaan Sekolah Catur Utut Adianto, tempat yang telah melahirkan banyak atlet catur nasional.
Harapan Baru untuk Catur Indonesia
Prestasi Shafira ini dianggap sebagai tonggak lahirnya generasi baru catur Indonesia. Ketua Umum PB Percasi, Utut Adianto, menyatakan bahwa Shafira punya potensi besar untuk berkembang menjadi pecatur kelas dunia dan terus membawa nama Indonesia di kancah internasional.
Pecatur Perempuan Ketiga Indonesia di Piala Dunia
Dengan pencapaiannya ini, Shafira mencatat sejarah sebagai pecatur perempuan ketiga Indonesia yang berhasil lolos ke Piala Dunia Catur, mengikuti jejak Irene Kharisma Sukandar dan Medina Warda Aulia. Langkahnya ini diharapkan bisa menjadi inspirasi bagi pecatur muda lainnya, khususnya para perempuan, untuk menembus panggung dunia.
Sumber / Baca Selengkapnya di ANTARA
Dinas Pariwisata Kabupaten Bantul tengah mendorong promosi wisata berbasis masyarakat melalui kegiatan bertajuk Njelajah Mbantul Milang Kori 2025. Acara ini mengajak pelaku industri pariwisata seperti agen perjalanan dan event organizer untuk menelusuri potensi wisata desa di berbagai wilayah Bantul selama tiga hari, dari tanggal 14 hingga 16 Mei 2025.
Menjelajahi Desa-Desa Wisata Berbasis Komunitas
Beberapa destinasi yang dijelajahi antara lain Desa Wisata Temuwuh di Dlingo, Desa Trirenggo di Kecamatan Bantul, dan Puncak Sosok di Kelurahan Bawuran. Tiap desa menawarkan pengalaman khas, mulai dari keindahan alam, kerajinan lokal, hingga pertunjukan budaya. Dinas Pariwisata ingin menunjukkan bahwa desa-desa ini tak kalah menarik dibanding destinasi populer lainnya di Yogyakarta.
Potensi Wisata Kreatif dan Edukatif di Bantul
Tren wisata saat ini menunjukkan ketertarikan terhadap pengalaman autentik yang berbasis budaya dan alam. Salah satu contohnya adalah Desa Wisata Wukirsari di Imogiri yang menawarkan wisata membatik di tengah suasana alam pedesaan. Tak hanya itu, Kelurahan Patalan juga memperkaya pengalaman wisatawan dengan sentra kerajinan, sanggar tari, dan gerobak sapi hias yang bisa dijadikan sarana wisata edukatif.
Daya Tarik Komunitas dalam Pariwisata
Menurut Kepala Dinas Pariwisata Bantul, Saryadi, wisata berbasis komunitas atau Community Based Tourism (CBT) memiliki keunggulan dalam menciptakan interaksi langsung antara wisatawan dan masyarakat. Konsep ini diharapkan memperkuat keterlibatan warga lokal dalam pengembangan pariwisata serta memberikan dampak ekonomi yang merata.
Mendorong Paket Wisata Inovatif bagi Wisatawan
Kegiatan Njelajah Mbantul tidak hanya memperkenalkan destinasi baru, tetapi juga membuka peluang kerja sama dengan biro perjalanan untuk membuat paket wisata yang menarik dan bernuansa lokal. Dengan mempertemukan kreativitas komunitas dan akses pasar dari travel agent, diharapkan potensi wisata desa di Bantul makin dikenal luas dan diminati oleh berbagai segmen wisatawan.
Sumber / baca selengkapnya di ANTARA
Peluncuran Program Ansor Istimewa BISA
Sleman – Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Ansor Daerah Istimewa Yogyakarta (PW GP Ansor DIY) resmi meluncurkan program bertajuk “Ansor Istimewa BISA” untuk membangun sumber daya manusia (SDM) unggul di era digital. Ketua PW GP Ansor DIY, Abdul Muiz, menjelaskan bahwa “BISA” merupakan akronim dari empat pilar utama: Bisnis, Inovasi, Sumber Daya Manusia, dan Anak Muda.
Empat Pilar Ansor Istimewa BISA
Keempat pilar ini menjadi landasan strategis yang mendorong organisasi bergerak lebih kolaboratif dan berorientasi masa depan. Menurut Abdul Muiz, Ansor kini tidak hanya memperkuat organisasi secara internal, tetapi juga hadir aktif menjawab tantangan-tantangan baru di tengah masyarakat.
Inovasi di Bidang Bisnis: Ansor Sports Center dan Nuso Farm
Di sektor bisnis, GP Ansor DIY memperkenalkan dua inisiatif unggulan: Ansor Sports Center, sebuah ruang komunitas yang memadukan olahraga, aktivitas ekonomi lokal, dan pemberdayaan kader; serta Nusantara Organik (Nuso Farm), sistem pertanian dan peternakan berbasis ekonomi sirkular untuk mendukung ketahanan pangan.
Pilar Inovasi: Ansor Peduli dan BANTUIN
Pada pilar inovasi, GP Ansor DIY meluncurkan Ansor Peduli, sistem kedaruratan berbasis kader muda NU yang pertama di Indonesia. Selain itu, mereka juga menghadirkan BANTUIN (Banser Ansor untuk Indonesia), platform layanan home service dan perawatan rumah tangga yang dikelola secara profesional untuk memenuhi kebutuhan masyarakat modern.
Meningkatkan Kapasitas Digital Melalui Pondok Digital Nusantara
Untuk memperkuat pilar Sumber Daya Manusia, GP Ansor DIY menghadirkan Pondok Digital Nusantara. Program ini membekali kader NU dengan keterampilan digital seperti coding, artificial intelligence (AI), desain grafis, hingga digital marketing, dengan tetap mengedepankan nilai-nilai keislaman dan kebangsaan.
Ansor Hub: Wadah Kreatif untuk Anak Muda
Pilar keempat, yaitu Anak Muda, diwujudkan melalui Ansor Hub — ruang ekspresi dan kolaborasi kreatif bagi generasi muda. Di sini, anak-anak muda diberi ruang untuk berkarya, berdialog, dan menciptakan solusi-solusi inovatif tanpa perlu menunggu momentum tertentu.
Ajak Seluruh Elemen Bangsa Berkolaborasi
Abdul Muiz menegaskan bahwa Ansor Istimewa BISA bukan sekadar program kerja, melainkan wujud nyata semangat baru Ansor untuk berkontribusi membangun bangsa. PW GP Ansor DIY pun mengajak semua pihak — pemerintah, sektor swasta, akademisi, hingga masyarakat sipil — untuk ikut berkolaborasi mewujudkan masa depan yang lebih baik bersama Ansor.
Baca selengkapnya di Antara
Yogyakarta – Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Suadi, menegaskan bahwa pengelolaan lobster di Indonesia hanya bisa berhasil jika melibatkan kolaborasi lintas sektor. Menurutnya, dukungan dari pemerintah pusat, daerah, akademisi, hingga masyarakat pesisir menjadi mutlak untuk menjaga keberlanjutan populasi lobster di alam.
Temuan dari Penelitian Terbaru
Pernyataan Prof. Suadi ini berlandaskan hasil penelitian yang dipublikasikan di jurnal Marine Policy (Quartil 1) pada Agustus 2024. Dalam penelitian tersebut, tim lintas disiplin melakukan analisis mendalam terkait dinamika kebijakan pengelolaan benih lobster atau puerulus, serta berbagai tantangan yang dihadapi dalam menjaga keberlanjutan lobster di Indonesia.
Potensi Besar, Namun Dihadang Masalah
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Indonesia sebenarnya memiliki potensi besar untuk menjadi pusat budidaya lobster dunia. Namun, ketidakonsistenan kebijakan dan minimnya keterlibatan semua pihak justru memperparah kondisi ekosistem lobster. Tanpa sinergi, peluang besar itu malah berubah menjadi masalah yang semakin kompleks.
Dampak Pelarangan Ekspor Benih Lobster
Salah satu kebijakan yang dinilai kurang efektif adalah larangan ekspor benih lobster yang diberlakukan sejak 2015. Meskipun bertujuan melindungi populasi lobster dan mendukung budidaya lokal, pelarangan ini tidak diiringi dengan penguatan infrastruktur, teknologi, dan kapasitas kelembagaan yang memadai, sehingga tujuan awal kebijakan sulit tercapai.
Lonjakan Penyelundupan dan Kerugian Negara
Alih-alih memperbaiki keadaan, kebijakan pelarangan tersebut justru mendorong praktik penyelundupan benih lobster ke luar negeri. Penelitian Suadi menemukan bahwa kerugian negara akibat penyelundupan ini bisa mencapai lebih dari Rp1 triliun per tahun, memperlihatkan betapa seriusnya dampak dari kebijakan yang kurang komprehensif.
Akar Masalah: Lemahnya Pengawasan dan Celah Hukum
Penyelundupan ini, menurut penelitian, terjadi karena lemahnya pengawasan di lapangan, adanya celah dalam regulasi, serta jaringan perdagangan ilegal yang sudah terbentuk kuat sejak lama. Faktor-faktor ini membuka peluang besar bagi pelaku penyelundupan untuk terus beroperasi tanpa hambatan berarti.
Perlunya Pendekatan yang Inklusif
Prof. Suadi menekankan bahwa untuk memperbaiki situasi, pengelolaan lobster harus dilakukan dengan pendekatan inklusif, melibatkan semua pemangku kepentingan dari nelayan, pengepul, hingga pelaku industri ekspor. Kebijakan yang disusun pun harus berbasis data lapangan agar lebih membumi dan dapat mengatasi persoalan secara nyata.
Baca selengkapnya di Antara
Sleman – Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Kabupaten Sleman menggelar acara bedah buku berjudul “Guyub Rukun Ayem Tentrem: Keluarga Bahagia Dalam Masyarakat Jawa” di Desa Wisata Taman Sendang Bandung, Sumberagung, Moyudan, Sleman, Kamis lalu. Acara ini menjadi ajang penting untuk memperkenalkan nilai-nilai luhur kehidupan Jawa kepada masyarakat.
Menghidupkan Semangat Membaca di Masyarakat
Ketua Tim Pengelolaan Koleksi DPK Sleman, Wahyuningsih, menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk mengajak masyarakat lebih memahami falsafah guyub rukun dan ayem tentrem, khususnya dalam kehidupan keluarga. Ia berharap acara ini juga mampu menumbuhkan minat baca dan meningkatkan pemanfaatan layanan perpustakaan di Sleman.
Membahas Nilai-Nilai Luhur dalam Keluarga
Bedah buku ini dipandu oleh pustakawan DPK Sleman, Bagus Eko Nur Saputro, yang sekaligus menjadi moderator. Ia menjelaskan bahwa buku karya Cahyadi Takariawan ini mengangkat tema penting tentang penanaman nilai luhur dalam keluarga dan pembentukan karakter seluruh anggota keluarga agar harmonis dan kuat dalam menghadapi tantangan zaman.
Narasumber dari DPRD Sleman Turut Berbagi Wawasan
Acara ini menghadirkan narasumber istimewa, yakni Ketua Komisi B DPRD Sleman, Muh Zuhdan, serta sang penulis buku, Cahyadi Takariawan. Zuhdan menyoroti pentingnya ketahanan keluarga di tengah kondisi sosial saat ini, mengingat minat baca di Indonesia tergolong rendah berdasarkan standar global, meskipun IPM Sleman tercatat sebagai salah satu yang tertinggi di Indonesia.
Bahasa Buku yang Sederhana dan Mengena
Menurut Zuhdan, buku “Guyub Rukun Ayem Tentrem” disusun dengan bahasa sederhana, ringan, dan mudah dipahami. Penulis bersama istrinya, Ida Nur Laila, sengaja mengemas buku ini agar dapat dinikmati berbagai kalangan, sehingga nilai-nilai kebersamaan dan keharmonisan dalam keluarga lebih mudah ditanamkan sejak dini.
Mengupas Konsep Ketahanan Keluarga
Dalam prakata bukunya, Cahyadi membahas konsep ketahanan keluarga sebagai kondisi dinamis yang menghadapi berbagai tantangan dan gangguan. Ia menekankan dua aspek penting: ketahanan fisik, yang meliputi kebutuhan dasar seperti sandang, pangan, dan papan; serta ketahanan sosial, yang berhubungan dengan hubungan antaranggota keluarga dan peran mereka di masyarakat.
Membumikan Falsafah Jawa di Era Modern
Melalui bedah buku ini, DPK Sleman berharap nilai-nilai guyub rukun dan ayem tentrem dapat terus dibumikan di tengah kehidupan modern yang serba cepat. Acara ini juga menjadi langkah konkret untuk membangun ketahanan keluarga sebagai fondasi penting dalam menciptakan masyarakat yang harmonis dan sejahtera.
Baca selengkapnya di Antara
Kalau bicara soal makanan khas Jawa, terutama dari Jawa Tengah dan Yogyakarta, pasti yang terlintas di benak banyak orang adalah rasa manisnya yang khas. Tak hanya pada lauk-pauk, bahkan sambal dan sayur tumis pun sering kali terasa manis. Tapi, tahukah kamu kenapa masakan dari Solo dan Jogja punya karakter rasa seperti ini?
Filosofi Kehidupan dalam Rasa Manis
Menurut Prof. Bani Sudardi dari Universitas Sebelas Maret Surakarta, budaya keraton di Solo dan Yogyakarta sangat berpengaruh terhadap rasa manis dalam kuliner Jawa. Di lingkungan keraton, rasa manis dianggap sebagai simbol kenikmatan, keharmonisan, dan kebahagiaan. Tak heran kalau dalam setiap upacara adat, makanan manis selalu jadi sajian utama untuk melambangkan berkah dan kerukunan.
Alam Jawa dan Melimpahnya Gula Kelapa
Selain faktor budaya, kondisi alam Jawa juga turut berperan besar. Tanahnya yang subur, terutama di pesisir, mendukung tumbuhnya pohon kelapa. Dari nira kelapa, masyarakat mengolah gula merah atau gula Jawa, yang kemudian banyak digunakan dalam berbagai masakan dan jajanan tradisional. Inilah kenapa rasa manis begitu dominan, bahkan sampai warna keemasan khas masakan Solo dan Jogja berasal dari gula kelapa ini.
Jejak Sejarah Tanam Paksa dan Industri Gula
Sejarah kolonial juga tak bisa dilepaskan dari perkembangan rasa manis ini. Pada abad ke-19, Belanda menerapkan sistem tanam paksa di Jawa, salah satunya untuk tebu. Jawa pun menjadi pusat produksi gula dunia, dan masyarakat kian akrab dengan olahan gula, tidak hanya untuk ekspor, tapi juga untuk konsumsi harian. Tradisi ini terus berlanjut hingga kini, mewarnai rasa masakan Jawa yang manis.
Makna Filosofis dalam Setiap Sajian
Bagi masyarakat Jawa, rasa manis lebih dari sekadar kenikmatan lidah. Ia menjadi lambang kasih sayang, keindahan, dan harapan akan masa depan yang cerah. Hidangan manis kerap hadir dalam momen-momen sakral seperti pernikahan dan upacara adat, menjadi doa dalam bentuk rasa. Dalam kesusastraan Jawa, manisnya hidup bahkan sering dijadikan metafora tentang harmoni dan cinta.
Kuliner Manis Khas Jawa yang Populer
Beberapa hidangan manis yang terkenal antara lain Gudeg Jogja, olahan nangka muda berpadu santan dan gula Jawa yang legit. Ada juga Selat Solo, hidangan daging berkuah manis yang terinspirasi dari Eropa, serta Gethuk Goreng dari Banyumas, jajanan berbahan singkong dan gula Jawa yang rasanya manis legit. Setiap gigitan seakan membawa cerita panjang tentang budaya dan sejarah Jawa.
Rasa Manis, Warisan Budaya yang Tetap Hidup
Rasa manis dalam makanan Jawa bukan sekadar soal resep dapur, tapi cerminan perjalanan panjang: dari filosofi hidup, pengaruh kerajaan, hingga dampak kolonialisme. Di tengah dunia yang terus berubah, setiap sajian manis dari Solo dan Jogja menjadi pengingat bahwa budaya bisa bertahan dalam rasa, dalam tradisi, dan dalam setiap hidangan sederhana yang kita nikmati hari ini.
Baca selengkapnya di Antara
Yogyakarta – Pemerintah Kota Yogyakarta tengah mempertimbangkan penggunaan popok khusus untuk kuda penarik andong yang beroperasi di kawasan Malioboro. Wacana ini muncul sebagai respons atas keluhan wisatawan terkait bau pesing yang tercium selama libur Lebaran 2025.
Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, mengatakan bahwa ia telah mengecek langsung sumber bau tak sedap tersebut. Hasilnya, bau tersebut bukan berasal dari buang air sembarangan oleh manusia, melainkan dari air kencing kuda andong.
“Tadi saya cek sendiri. Bukan dari manusia, ternyata dari kencing kuda,” ujar Hasto saat ditemui di Yogyakarta, Rabu.
Ia pun langsung menginstruksikan Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kawasan Cagar Budaya Yogyakarta bersama dinas terkait untuk mencari solusi. Salah satu yang tengah dikaji adalah kemungkinan penggunaan popok khusus untuk kuda.
“Saya sudah sampaikan ke dinas dan UPT Malioboro, ini soal ‘pampers’ kuda perlu ditata lagi. Ternyata ini hal penting untuk kenyamanan Malioboro,” katanya.
Menurut Hasto, selama ini kuda andong memang sudah dilengkapi wadah untuk menampung kotoran. Namun, wadah tersebut tidak efektif menampung air kencing sehingga seringkali meluber ke jalan dan menimbulkan bau tak sedap.
“Itu kan wadahnya cuma buat kotoran padat, tidak bisa menampung air kencing. Jadinya bercampur dan tercecer. Ya, jelas saja jadi pesing,” tuturnya.
Sebagai langkah tambahan, Hasto juga menyarankan pendataan ulang jumlah kuda jantan dan betina yang beroperasi. Ia menilai, kuda betina lebih mudah dikendalikan dalam hal buang air, sehingga bisa membantu mengurangi masalah serupa.
Baca selengkapnya di Antara