Kunjungan Taman Pintar Yogyakarta Capai 720 Ribu Wisatawan Sepanjang 2025
Pengelola objek wisata edukasi Taman Pintar Yogyakarta mencatat jumlah kunjungan sekitar 720 ribu wisatawan sepanjang tahun 2025. Puncak kunjungan terjadi pada Desember 2025 dengan hampir 113 ribu pengunjung, seiring momentum libur Natal dan Tahun Baru.
Kepala UPT Pengelolaan Taman Budaya Kota Yogyakarta, Karmila, menjelaskan bahwa periode akhir tahun memang selalu menjadi waktu paling ramai. Selain itu, kunjungan juga relatif tinggi pada Januari, libur Lebaran, serta masa libur kenaikan kelas.
Dampak Kebijakan Pembatasan Karya Wisata
Sepanjang 2025, kunjungan Taman Pintar turut dipengaruhi oleh kebijakan pembatasan kegiatan karya wisata dari sejumlah daerah. Kebijakan tersebut berdampak pada penurunan jumlah pengunjung dari beberapa wilayah, khususnya Jawa Barat yang mengalami penurunan sekitar 15 persen.
Beberapa daerah di Jawa Timur juga menerapkan kebijakan serupa, sehingga jumlah rombongan wisata edukasi yang biasanya datang ke Yogyakarta ikut berkurang.
Pariwisata Yogyakarta Tetap Menjadi Penopang
Meski menghadapi berbagai sentimen eksternal, tren pariwisata di Kota Yogyakarta pada akhir 2025 dinilai tetap positif. Menurut Karmila, Yogyakarta masih menjadi salah satu tujuan utama wisata akhir tahun, sehingga mampu menjaga stabilitas jumlah kunjungan ke Taman Pintar.
Ia berharap ke depan kebijakan pariwisata antar daerah dapat lebih tersinergi di tingkat nasional agar tidak menimbulkan dampak besar terhadap sektor pariwisata.
Rencana Pengembangan Taman Pintar Tahun 2026
Memasuki tahun 2026, pengelola Taman Pintar telah menyiapkan sejumlah rencana pengembangan. Setelah melakukan penambahan dan penyegaran wahana di Gedung Oval serta zona edukasi lainnya sepanjang 2025, fokus berikutnya diarahkan pada peremajaan fasilitas.
Salah satu rencana besar yang disiapkan adalah perbaikan playground di sisi timur, dekat area air mancur menari, khususnya pada bagian lantai. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan kenyamanan dan keamanan pengunjung.
Baca / Sumber berita : ANTARA
Yogyakarta selalu menjadi destinasi favorit saat musim liburan tiba. Selain dikenal sebagai kota budaya dan pariwisata, Jogja juga menawarkan pengalaman wisata yang beragam, mulai dari kawasan bersejarah, kuliner legendaris, hingga ruang-ruang kreatif yang artistik.
Toko Buku sebagai Ruang Hangat dan Estetik
Tak banyak yang tahu, Yogyakarta juga merupakan surga bagi para pecinta buku. Di kota ini, toko buku bukan sekadar tempat membeli bacaan, tetapi juga ruang nyaman untuk bersantai, berdiskusi, kencan santai, hingga berburu foto estetik. Suasananya yang hangat membuat pengunjung betah berlama-lama.
Buku Akik dan Solusi Buku, Favorit Pecinta Literasi
Beberapa toko buku populer di Jogja antara lain Buku Akik, yang dikenal dengan koleksi sastra dan sosial politik serta fasilitas membaca di tempat. Ada juga Solusi Buku di Sleman, yang memadukan toko buku dengan kedai kopi dan kerap menjadi ruang berkegiatan komunitas kreatif seperti diskusi dan pameran seni.
Shira Media dan The Lucky Boomerang Bookshop
Pilihan lain adalah Shira Media, toko buku sekaligus kafe yang menyediakan buku terbitan lokal maupun dari berbagai penerbit. Sementara itu, The Lucky Boomerang Bookshop yang telah berdiri lebih dari 25 tahun menawarkan koleksi buku impor langka dari berbagai negara, termasuk buku bekas yang sulit ditemukan.
Kedai Buku Bernuansa Alam dan Seni
Bagi yang mencari pengalaman berbeda, Kedai Jual Buku Sastra (JBS) di Bantul menawarkan suasana membaca di tengah hamparan sawah dengan koleksi sastra indie yang unik. Ada pula Kebun Buku Art Books Coffee, toko buku di rumah lawas yang menyediakan buku impor edisi lama, pameran seni, serta fasilitas meminjam buku sambil menikmati kopi.
Liburan Literasi yang Berkesan di Jogja
Dengan konsep yang unik dan suasana yang nyaman, toko-toko buku di Yogyakarta menjadi destinasi alternatif yang menarik saat liburan. Tak hanya menambah wawasan, pengalaman berkunjung ke toko buku di Jogja juga memberi ketenangan dan inspirasi tersendiri.
Baca / Sumber berita : ANTARA
Putri Sulung Sultan yang Diprediksi Jadi Penerus
Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Mangkubumi, putri sulung Sri Sultan Hamengku Buwono X dan GKR Hemas, tengah menjadi sorotan publik. Ia digadang-gadang sebagai calon penerus tahta Keraton Yogyakarta, menggantikan ayahandanya di masa mendatang.
Tradisi Keraton dan Wacana Pembaruan
Secara tradisional, tahta Keraton Yogyakarta selalu diwariskan kepada keturunan laki-laki. Karena itu, wacana suksesi kepada GKR Mangkubumi memunculkan perdebatan di kalangan internal keraton maupun masyarakat. Bagi sebagian pihak, langkah ini dianggap sebagai perubahan besar dalam tradisi yang telah berabad-abad dijaga.
Belum Ada Pernyataan Resmi dari Keraton
Hingga kini, belum ada pernyataan resmi dari Keraton Yogyakarta yang memastikan GKR Mangkubumi akan menjadi sultanah berikutnya. Meski begitu, dalam beberapa kesempatan, Sri Sultan Hamengku Buwono X kerap memberi sinyal dukungan terhadap peran perempuan dalam struktur kepemimpinan keraton.
Simbol Regenerasi dan Kesetaraan
Jika benar terwujud, penobatan GKR Mangkubumi sebagai sultanah akan menjadi langkah bersejarah sekaligus simbol kesetaraan gender dalam budaya Jawa. Hal ini juga menandai bentuk regenerasi baru di lingkungan Keraton Yogyakarta yang tetap menjaga nilai-nilai tradisi sambil membuka ruang pembaruan.
Sejarah Baru bagi Kesultanan Jawa
Suksesi kepemimpinan kepada GKR Mangkubumi akan menjadi tonggak penting bagi perjalanan sejarah Kesultanan Yogyakarta dan bahkan dunia keraton di Pulau Jawa. Langkah ini bukan hanya persoalan tahta, tetapi juga cerminan perubahan zaman yang terus menyeimbangkan tradisi dan modernitas.
Baca / Sumber berita : ANTARA
Kereta Pusaka Ikut Meriahkan Kirab Trunajaya
Dua kereta pusaka berusia lebih dari seabad milik Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat kembali keluar dari Museum Wahanarata setelah 12 tahun disimpan. Keduanya akan ikut dalam Kirab dan Pergelaran Beksan Trunajaya yang digelar di Kota Yogyakarta pada Rabu (22/10), untuk memperingati Tingalan Dalem Taun atau ulang tahun Sri Sultan Hamengku Buwono X berdasarkan penanggalan Jawa.
Momen Bersejarah Setelah Satu Dekade
Kepala Museum Wahanarata, RM Pradiptya Abikusno, menyebut peristiwa ini sebagai momen istimewa. “Setelah lebih dari satu dekade, akhirnya Keraton kembali mengeluarkan dua kereta kudanya,” ujarnya. Masyarakat dan wisatawan diharapkan dapat menyaksikan langsung simbol kejayaan sejarah Keraton Yogyakarta yang kembali hadir di jalanan kota.
Dua Kereta Legendaris: Kyai Landower Surabaya dan Premili
Kereta yang akan dikirab adalah Kyai Landower Surabaya dan Kereta Premili, keduanya berusia ratusan tahun dan menjadi saksi perjalanan panjang budaya Keraton Yogyakarta. Kereta Landower dibuat pada tahun 1900 dan pernah digunakan oleh Gusti Pangeran Haryo Purubaya, yang kemudian menjadi Sri Sultan Hamengku Buwono VIII.
Keanggunan Kereta Kyai Landower Surabaya
Kereta Kyai Landower Surabaya merupakan karya buatan Spyker, Belanda, dengan desain elegan berwarna hitam, lentera persegi berlapis perak, serta gagang pintu berlapis nikel. Atapnya terbuat dari kulit hitam, dan baru saja menjalani proses restorasi serta pengecatan ulang agar tampil kembali megah dalam kirab budaya.
Simbol Pelestarian Budaya dan Sejarah
Kehadiran dua kereta pusaka ini bukan sekadar tontonan budaya, tetapi juga bentuk pelestarian warisan sejarah Keraton Yogyakarta. Melalui kirab ini, masyarakat dapat kembali mengenal kekayaan budaya Jawa yang penuh filosofi dan nilai luhur.
Baca / Sumber berita : ANTARA
Perayaan Wellness Indonesia di Solo dan Yogyakarta
Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana menyebut Wonderful Indonesia Wellness (WIW) 2025 sebagai bentuk perayaan atas tradisi kebugaran dan penyembuhan yang telah diwariskan turun-temurun di Indonesia. Acara ini digelar di Solo dan Yogyakarta selama sebulan penuh, mulai 1 hingga 30 November 2025.
Momen Istimewa yang Menghidupkan Kearifan Lokal
Dalam pembukaan WIW 2025 di Taman Balekambang, Solo, Menpar Widiyanti menyampaikan bahwa kegiatan ini bukan sekadar peluncuran program pariwisata, tetapi juga bentuk penghormatan terhadap kearifan lokal dan nilai-nilai wellness yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia.
Menarik Wisatawan Domestik dan Mancanegara
Menpar berharap, melalui penyelenggaraan WIW 2025, semakin banyak wisatawan dari berbagai daerah maupun mancanegara yang tertarik datang untuk merasakan pengalaman wellness khas Indonesia. Festival ini mengangkat konsep kebugaran berbasis budaya dan spiritualitas Nusantara.
Kolaborasi Dua Festival Besar
Acara WIW 2025 merupakan hasil kolaborasi dua agenda besar, yaitu Royal Surakarta Wellness Festival yang digelar oleh Keraton Surakarta dan Jogja Cultural Wellness Festival yang diselenggarakan oleh Badan Promosi Pariwisata Daerah Yogyakarta. Kedua kegiatan ini menyatukan semangat budaya dan kebugaran dalam satu rangkaian festival nasional.
Ragam Kegiatan Berbasis Tradisi Jawa
Royal Surakarta Wellness Festival akan menghadirkan beragam kegiatan menarik seperti Javanese Wisdom Immersion, Gending for Therapy, Royal Dance Symphony, A Holy Journey, dan Javanese Secret Recipe. Melalui kegiatan ini, WIW 2025 diharapkan mampu memperkenalkan keindahan tradisi kebugaran Jawa kepada dunia.
Baca / Sumber berita : ANTARA
Jogja Cultural Wellness Festival (JCWF) siap digelar pada 1–30 November 2025 di Daerah Istimewa Yogyakarta. Festival ini melibatkan berbagai komunitas lokal dan menghadirkan pengalaman penyembuhan yang memadukan keseimbangan tubuh, pikiran, dan jiwa.
Festival Berbasis Kearifan Lokal
Ketua Panitia JCWF, Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Bendara, menjelaskan bahwa festival ini lahir dari kearifan lokal Jawa. Pada tahun ini, tema yang diusung adalah Wiroso, Wiromo, Wirogo yang menekankan harmoni rasa, irama, dan raga dalam kehidupan sehari-hari.
Workshop untuk Kesehatan dan Keharmonisan
Sebagai bagian dari acara, panitia menyiapkan lima jenis workshop yang bisa diikuti oleh pengunjung. Setiap workshop dirancang untuk memberi pengalaman mendalam mengenai kesehatan holistik, mulai dari olah tubuh hingga meditasi berbasis tradisi.
Tiket dan Kapasitas Pengunjung
Pengunjung dapat mengikuti workshop dengan tiket seharga Rp500 ribu untuk akses satu hari penuh. Menariknya, setiap workshop memiliki kapasitas berbeda, mulai dari 500 hingga 2.000 peserta, sehingga memberi keleluasaan bagi siapa pun yang ingin ikut serta.
Merayakan Harmoni Tubuh, Pikiran, dan Jiwa
JCWF 2025 bukan sekadar festival, melainkan ruang pertemuan budaya, tradisi, dan gaya hidup sehat. Dengan semangat kebersamaan, acara ini diharapkan mampu memberikan inspirasi bagi masyarakat untuk lebih peduli pada keseimbangan hidup yang selaras dengan kearifan lokal Jawa.
Baca / Sumber berita : ANTARA
Ayam Goreng Kalasan merupakan salah satu kuliner khas paling terkenal dari Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Hidangan ini dinamai dari Kecamatan Kalasan — daerah asalnya — yang dikenal dengan deretan warung makan legendaris penyaji ayam goreng bercita rasa khas. Tak heran, makanan ini menjadi favorit wisatawan yang berkunjung ke Sleman.
Perpaduan Rasa Manis dan Gurih yang Unik
Berbeda dari ayam goreng biasa, Ayam Goreng Kalasan memiliki perpaduan rasa manis dan gurih yang khas. Rahasianya terletak pada bumbu rempah tradisional yang meresap sempurna hingga ke dalam daging ayam. Proses pengolahannya pun dilakukan dengan cara khusus, menghasilkan tekstur lembut di dalam namun tetap gurih di luar.
Kremesan Renyah yang Menggoda Selera
Salah satu daya tarik utama hidangan ini adalah kremesannya — taburan renyah yang gurih dan membuat siapa pun sulit berhenti makan. Kombinasi ayam goreng berbumbu dengan kremesan yang gurih menciptakan sensasi rasa yang seimbang dan memanjakan lidah.
Hidangan Favorit dan Oleh-Oleh Wisatawan
Tak hanya jadi menu andalan di rumah makan, Ayam Goreng Kalasan juga kerap dijadikan oleh-oleh khas Sleman. Banyak wisatawan yang sengaja membawa pulang ayam ini sebagai buah tangan karena daya tahannya cukup baik dan rasanya tetap lezat meski disantap kembali di rumah.
Warisan Kuliner yang Terus Lestari
Ayam Goreng Kalasan bukan sekadar hidangan lezat, melainkan juga warisan budaya kuliner yang menunjukkan kekayaan cita rasa tradisional Yogyakarta. Dengan perpaduan antara rasa, tradisi, dan kehangatan penyajian, kuliner ini terus bertahan menjadi ikon kebanggaan masyarakat Sleman hingga kini.
Yogyakarta Tetap Jadi Destinasi Favorit
Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) selalu punya daya tarik tersendiri bagi masyarakat Jakarta, baik untuk liburan, kuliah, maupun urusan bisnis. Sebagai kota budaya sekaligus kota pendidikan, Yogyakarta tetap ramai dikunjungi, apalagi jalur darat masih jadi pilihan banyak orang.
Rute dan Waktu Tempuh Jakarta–Yogyakarta
Menurut estimasi Google Maps, jarak Jakarta ke Yogyakarta sekitar 575 kilometer. Jika lewat tol Trans Jawa, perjalanan bisa ditempuh dalam waktu kurang lebih 7 jam 28 menit. Walau ruas tol Jakarta–Yogyakarta belum sepenuhnya tersambung langsung, pengemudi tetap bisa memanfaatkan tol hingga Kartasura, lalu melanjutkan lewat jalan nasional menuju Jogja.
Tarif Tol Jakarta–Yogyakarta Terbaru 2025
Mulai 2025, pemerintah dan pengelola jalan tol menyesuaikan tarif untuk menjaga kualitas layanan dan infrastruktur. Untuk kendaraan golongan I seperti mobil pribadi dan minibus, total tarif perjalanan Jakarta–Yogyakarta kini mencapai Rp591.500.
Rincian Tarif Tol Trans Jawa
Berikut detail tarif tol yang berlaku:
- JORR: Rp17.000
- Jakarta–Cikampek: Rp27.000
- Cikopo–Palimanan: Rp132.000
- Palimanan–Kanci: Rp13.500
- Kanci–Pejagan: Rp31.500
- Pejagan–Pemalang: Rp66.000
- Pemalang–Batang: Rp53.000
- Batang–Semarang: Rp111.500
- Semarang ABC: Rp5.500
- Semarang–Solo: Rp92.000
- Solo–Jogja (Kartasura): Rp42.500
Meski terbilang cukup tinggi, perjalanan lewat tol Trans Jawa tetap lebih nyaman dan efisien dibanding jalur arteri biasa.
Tips Perjalanan Agar Lebih Lancar
Pemerintah mengingatkan pengguna jalan tol untuk selalu mengecek tarif terbaru melalui kanal resmi pengelola atau laman PUPR. Jangan lupa memastikan saldo e-toll mencukupi, terutama saat musim liburan atau mudik. Dengan perencanaan yang matang, perjalanan Jakarta–Yogyakarta bisa lebih aman, lancar, dan nyaman.
Baca / Sumber berita : ANTARA
Ajang Olahraga dan Seni Menyatu
Universitas Gadjah Mada (UGM) melalui Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) bekerja sama dengan Keluarga Alumni Hukum Gadjah Mada (Kahgama) dan Sirah Travel, siap menggelar Jogja Run’nShine 2025 pada 14 September mendatang. Acara ini bukan sekadar lomba lari, melainkan juga perayaan seni dan budaya khas Yogyakarta.
Lomba Lari dengan Sentuhan Budaya
Jogja Run’nShine 2025 menghadirkan dua kategori lomba, yaitu lari 5 kilometer dan 10 kilometer. Menariknya, rute lomba akan melewati sejumlah titik seni dan budaya di Kota Yogyakarta, sehingga para pelari tidak hanya berolahraga, tetapi juga menikmati atmosfer budaya kota pelajar ini.
Target Peserta dan Hadiah Menarik
Direktur Utama GIK UGM, Alfatika Aunuriella Dini, menjelaskan bahwa panitia menargetkan sekitar 3.000 peserta ikut ambil bagian dalam ajang ini. Tidak hanya kesehatan dan pengalaman yang didapat, pelari juga berkesempatan meraih hadiah utama berupa tiket umroh serta perjalanan wisata ke Thailand, Malaysia, hingga Singapura.
Filosofi 5K dalam Konsep Acara
Lebih dari sekadar event olahraga, Jogja Run’nShine 2025 mengusung filosofi 5K: Kampus, Keraton, Kampung, Komunitas, dan Korporasi. Kelima unsur ini diwujudkan dalam rute lari maupun pertunjukan seni yang mendampingi acara, menegaskan bahwa Yogyakarta berdiri atas sinergi berbagai elemen masyarakat.
Yogyakarta sebagai Panggung Kreativitas
Melalui konsep olahraga dan olah rasa, acara ini diharapkan menjadi ruang kolaborasi antara pecinta olahraga, seniman, dan masyarakat luas. Jogja Run’nShine 2025 pun diharapkan semakin memperkuat citra Yogyakarta sebagai kota budaya dan kreativitas.
Baca / Sumber berita : ANTARA
QRIS Lebih dari Sekadar Kode Digital
Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Sri Sultan Hamengku Buwono X, menegaskan bahwa QRIS bukan hanya instrumen pembayaran nirsentuh, tetapi juga simbol lahirnya peradaban baru dalam ekosistem keuangan. Hal ini disampaikannya saat meresmikan peluncuran QRIS TAP sektor transportasi dan Kick Off QRIS Jelajah Indonesia 2025 di Yogyakarta.
Ekosistem Keuangan yang Menyatu dengan Lokal
Sri Sultan menilai QRIS menghadirkan ekosistem keuangan yang cepat, praktis, dan sekaligus selaras dengan denyut ekonomi lokal. Dengan begitu, teknologi pembayaran digital tidak hanya memudahkan transaksi, tetapi juga memperkuat fondasi ekonomi masyarakat Yogyakarta.
Transformasi Digital dengan Kecerdasan Budaya
Menurut Sultan, transformasi digital di Yogyakarta harus tetap berpijak pada nilai-nilai kearifan lokal. Ia menyebut pendekatan ini sebagai “kecerdasan budaya,” yakni kemampuan mengelola perubahan teknologi tanpa kehilangan jati diri bangsa.
Falsafah Jawa dalam Teknologi Modern
Dengan falsafah Jawa Hamemayu Hayuning Bawana, Sri Sultan menekankan bahwa teknologi, termasuk QRIS, seharusnya membawa manfaat bagi sesama. Artinya, inovasi digital tidak boleh semata berorientasi pada pertumbuhan ekonomi, melainkan juga pada harmoni sosial dan keberlanjutan.
Yogyakarta sebagai Teladan Ekonomi Digital Berbudaya
Peluncuran QRIS di Yogyakarta menjadi langkah nyata untuk menunjukkan bahwa digitalisasi bisa berjalan seiring dengan budaya lokal. Kehadiran QRIS diharapkan menjadi contoh bagaimana teknologi mampu memperkuat identitas daerah sekaligus mendukung kemajuan ekonomi.
Baca / Sumber berita : ANTARA